Relasi Formatif Hegemoni Gramsci dalam Novel Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer
Oleh: Heru Kurniawan
Abstract:
Nationalism ideology on Perburuan’s novel by Pramoedya Ananta Toer opposed with priyayi’s ideology as result of Dutch colonial government hegemony in Indonesia. In this situation, the emergence of treacherous deed to nationalism struggle conducted by organic’s intellectuals that having priyayi’s ideology, as done by Lurah Kaliwangan and former Wedana. By this priyayi’s ideology, Lurah Kaliwangan and former Wedana willing to sacrifice family, society, and country’s interest to gain position, wealth, and acceptance from their superior.
Keywords: Nationalism, Perburuan, Pramoedya Ananta Toer, priyayi.
Pendahuluan
Sastra dan realitas sosial masyarakat menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena sastra diproduksi dan distrukturasi dari berbagai perubahan realitas tersebut. Realitas pada sastra merupakan suatu cara pandang penciptanya dalam melakukan pengingkaran atau pelurusan atas realitas sosial yang melingkupi kehidupannya. Dengan demikian, sastra merupakan potret sosial yang menyajikan kembali realitas masyarakat yang pernah terjadi dengan cara yang khas sesuai dengan penafsiran dan ideologi pengarangnya.
Sosiolog Karl Manheim pernah mengajukan teori bahwa setiap karya seni (termasuk sastra) mau tidak mau akan menyampaikan makna pada tiga tingkat yang berbeda. Pertama, tingkat objectif meaning, yaitu hubungan suatu karya sastra dengan dirinya sendiri; apakah karya sastra gagal atau berhasil dalam menjelmakan keindahan dan pesan yang hendak disampaikannya. Kedua, tingkat expressive meaning, yaitu hubungan antara karya itu dengan latar belakang psikologi penciptanya; apakah karya sastra diciptakan untuk mengenang sesuatu yang penting dalam kehidupan penciptanya. Ketiga, tingkat documentary meaning, yaitu makna yang berhubungan antara karya sastra dengan konteks sosial penciptaannya. Suatu karya sastra merupakan dokumen sosial tentang keadaan masyarakat dan alam pikiran, di mana suatu karya diciptakan dan dilahirkan.1
Pada tingkat yang ketiga ini karya sastra mempunyai maknanya setelah diletakkan dalam konteks realitas sosialnya. Struktur karya sastra dibentuk dari proses strukturasi nilai-nilai yang terjadi pada realitas masyarakat. Hubungan antara struktur karya sastra dengan struktur ideologi masyarakat bersifat dialektik. Struktur karya sastra lahir dan dibentuk oleh struktur ideologi masyarakat, sedangkan struktur masyarakat juga dipengaruhi oleh struktur karya sastra, terutama karya sastra yang masterpiece. Oleh karena hubungan dialektik inilah, maka sosiologi sastra hadir sebagai disiplin ilmu yang berusaha ‘memahami dan menjelaskan’2 fenomena dua struktur tersebut.
Baca artikel lengkap: 10-relasi-formatif-hegemoni-gramsci
Add comment April 7, 2008