Archive for March, 2008
Potret Generasi Pascanasional dalam Novel Burung-Burung Rantau Karya Y.B. Mangunwijaya
Oleh: Anwar Efendi
Abstract:
society and contemporary problems on specific era affected themes chosen by writers in their works. What articulated by writers in their works is an offer to become alternative to interpret and understand human and his life. YB. Mangunwijaya as prominent writer that have unique character and creativity, try to articulating his knowledge and understanding, especially about posterior-nationalism idea. By means characters in his novel Burung-burung Rantau (Wandering Birds), Mangunwijaya want to give enlightenment to us about understanding our aim in our nation and state, in Indonesian frame, philosophically, ideologically, and cultural.
Keywords: generation, nationalism, and post-nationalism.
Pendahuluan
Pada masa menjelang abad ke-21 orang mulai berbicara bahwa mereka sedang berada dalam proses memasuki tata kehidupan yang baru. Tata kehidupan tersebut dimaknai dengan berbagai macam istilah. Masing-masing istilah mempunyai makna sekaligus menghadirkan interpretasi yang berbeda-beda. Istilah seperti globalisasi, postmodernisme, postkolonialisme, konsumerisme, dan juga abad informasi digunakan untuk menyebut tata kehidupan baru yang diidealkan oleh masyarakat dunia.
Tata kehidupan baru tersebut ditandai oleh adanya perubahan yang cepat dalam berbagai bidang kehidupan seperti bidang teknologi, ekonomi, politik, dan budaya. Perkembangan yang pesat dalam bidang teknologi, khususnya teknologi informasi memungkinkan produksi dan distribusi informasi mencapai tingkat kemudahan dan kecepatan yang tinggi sehingga dapat menembus batas ruang dan waktu. Perkembangan bidang ekonomi memunculkan suatu era yang dinamai era pasar global, pasar tanpa batas. Selanjutnya, pada bidang politik ditandai semakin melemahnya batas-batas ruang yang semula menjadi dasar berdirinya negara bangsa. Sementara itu, bidang budaya memungkinkan munculnya globalisasi budaya yang dijiwai oleh entitas pluralisme.
Download artikel lengkap: Klik disini
4 comments March 31, 2008
Dadaisme: Mencari Jalan Pulang
Oleh: Zurmailis
Abstract:
Dewi Sartika’s Dadaisme is first winner of Jakarta’s Art Foundation (Dewan Kesenian Jakarta) Novel Writing Contest 2003. This novel believed as “beyond” other novel prior to it. To appreciate Dadaisme, we can use Goldmann’s Structuralism-Genetic as theory to understand it. According to Goldmann, great and genuine works having solid structure, internal harmony from appropriate world view that being comprehended and expressed by the writer. World view is a whole complex from ideas, aspiration, and emotion that connected altogether member of a specific social group with another. This novel have powerful narrative style, by elaborating pieces of critic to ethnic culture, affair, hallucination, surrealist world, and tragic event, therefore worth being a winner.
Keywords: Dadaisme, Dewi Sartika, Goldmann, Structuralism-Genetic.
Pendahuluan
Narasi besar tentang ketunggalan dunia di bawah satu kekuasaan, keterpusatan pada satu visi, dan universalitas atas nama umat manusia yang dinamakan demokrasi, modernisasi, dan kapitalisme terbentuk dari dominasi Barat. Demokrasi berarti apa yang adil menurut pandangan Barat. Modernisasi berarti menjalarnya pengaruh pandangan tunggal yang terstruktur dan terpola menurut pandangan Barat, dan kapitalisme menjadi kendaraan bagi keduanya.
Masyarakat dunia yang tetap bertahan hidup dalam peradaban yang lebih mengutamakan spiritual dibuktikan oleh Barat berkembang dengan lamban. Kolonialisasi Barat terhadap Timur merupakan bukti bahwa yang lebih rasional dan mampu mengembangkan teknologi dapat lebih berkuasa. Manusia Timur yang hidup dengan pergerakan yang lamban karena terikat pada spiritualisme terbukti mudah ditaklukkan.
Dengan pandangan demikian muncul dikotomi adanya garis imajinasi yang membelah dunia Timur-Barat, tradisional-modern, spiritualisme-rasionalisme, dan keterikatan-kebebasan. Yang bukan Barat adalah tradisional, lamban, irasional, kuno, dan dianggap sebagai peradaban yang seharusnya tersimpan di museum. Hasil seni Timur dilihat sebagai seni primitif peninggalan sejarah masa lampau. Kemajuan dunia harus dicapai melalui alih teknologi dan tranformasi budaya, dengan visi bersama membangun dunia baru yang demokratis.
Download artikel lengkap: Klik disini
1 comment March 31, 2008