Dadaisme: Mencari Jalan Pulang
March 31, 2008
Oleh: Zurmailis
Abstract:
Dewi Sartika’s Dadaisme is first winner of Jakarta’s Art Foundation (Dewan Kesenian Jakarta) Novel Writing Contest 2003. This novel believed as “beyond” other novel prior to it. To appreciate Dadaisme, we can use Goldmann’s Structuralism-Genetic as theory to understand it. According to Goldmann, great and genuine works having solid structure, internal harmony from appropriate world view that being comprehended and expressed by the writer. World view is a whole complex from ideas, aspiration, and emotion that connected altogether member of a specific social group with another. This novel have powerful narrative style, by elaborating pieces of critic to ethnic culture, affair, hallucination, surrealist world, and tragic event, therefore worth being a winner.
Keywords: Dadaisme, Dewi Sartika, Goldmann, Structuralism-Genetic.
Pendahuluan
Narasi besar tentang ketunggalan dunia di bawah satu kekuasaan, keterpusatan pada satu visi, dan universalitas atas nama umat manusia yang dinamakan demokrasi, modernisasi, dan kapitalisme terbentuk dari dominasi Barat. Demokrasi berarti apa yang adil menurut pandangan Barat. Modernisasi berarti menjalarnya pengaruh pandangan tunggal yang terstruktur dan terpola menurut pandangan Barat, dan kapitalisme menjadi kendaraan bagi keduanya.
Masyarakat dunia yang tetap bertahan hidup dalam peradaban yang lebih mengutamakan spiritual dibuktikan oleh Barat berkembang dengan lamban. Kolonialisasi Barat terhadap Timur merupakan bukti bahwa yang lebih rasional dan mampu mengembangkan teknologi dapat lebih berkuasa. Manusia Timur yang hidup dengan pergerakan yang lamban karena terikat pada spiritualisme terbukti mudah ditaklukkan.
Dengan pandangan demikian muncul dikotomi adanya garis imajinasi yang membelah dunia Timur-Barat, tradisional-modern, spiritualisme-rasionalisme, dan keterikatan-kebebasan. Yang bukan Barat adalah tradisional, lamban, irasional, kuno, dan dianggap sebagai peradaban yang seharusnya tersimpan di museum. Hasil seni Timur dilihat sebagai seni primitif peninggalan sejarah masa lampau. Kemajuan dunia harus dicapai melalui alih teknologi dan tranformasi budaya, dengan visi bersama membangun dunia baru yang demokratis.
Download artikel lengkap: Klik disini
Entry Filed under: Vol. 6 No. 1 Jan-Jul 2008. .
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Mansur Ga'ga | May 24, 2008 at 10:05 am
Baa Kabarnyo?
Hai Mba Lili yang maniezt, cakep, semangat, dermawan, and smart.
Thanks atas artikelnya, sekarang file-nya udah saya donload buat referensi tesisku.
Sehubungan dengan objek materil yang saya gunakan, yaitu repertoire sebagaimana konsep yang ditawarkan Iser, apakah memungkinkan jika konsep perantau saya masukan sebagai list dalam repertoire. Kalau memungkinkan, caranya piye mba?
Atas info yang mba segera kirikman ke e-mail-ku, sebelumnya saya ucakan banyak terima kasih. (PD aza lg, he he he)
Wassalam