Akomodatif terhadap Budaya Lokal: Studi tentang Dialektika Budaya Jawa dengan Islam
April 1, 2008
Oleh: Moh. Roqib
Abstract:
Accommodative attitude for Javanese Muslim community is a historical necessity, that accumulated from intercultural dialogue of Muslim trader that have live characteristic more dynamic than agrarian or farmer community. Life dynamic of these traders from diverse region and nation (Arab, India, and Persia) opens cultural diversity Islam-Java that strengthens with interaction in trade, marriage, and political power inheritance (Majapahit) in Java. This accommodative attitude also emphasized by kitab kuning (yellow-paper book) studies’ tradition in pesantren in Java. Kitab kuning writers from different place (especially Middle East and Andalusia/Spain) have contributed to cultural acculturation. This accommodative attitude also leads Muslim community as the biggest in Java and Indonesia. Without this attitude, friction and collision in social interaction in Java will be very intense.
Keywords: accommodative attitude, Javanese Muslim, kitab kuning.
Pendahuluan
Tulisan ini bermula dari perbincangan penulis dengan kawan dekat, Sahiron Syamsudin, Ph.D. Saat itu ia baru saja menginjakkan kaki di tanah air setelah beberapa tahun studi program doktor di Jerman. Perbincangan bermula dari pertanyaan mengapa Islam di Indonesia berkembang dengan damai dan masyarakat Muslim selalu hidup beriringan dengan masyarakat yang beragama lain. Penulis berpendapat bahwa hal itu disebabkan karena para pedagang Muslim yang berdakwah menggunakan pendekatan akomodatif dengan budaya lokal. Sikap akomodatif, oleh pesantren di Jawa disebut dengan pendekatan tasamuh, tawazun, dan tawasuth, telah memberikan “ruang dialog” bagi semua komunitas yang ada saat itu untuk mencerna kehadiran agama baru di Jawa atau Nusantara.
Sahiron menambahkan bahwa sikap akomodatif para mubaligh tersebut sebagai penentu keberhasilan Islam masuk di Indonesia. Tanpa sikap akomodatif mustahil Islam bisa berkembang dan menjadi mayoritas seperti saat ini. Watak dan budaya lokal Jawa dan Nusantara tidak memungkinkan dilaksanakan dakwah dengan pendekatan lain semisal purivikasi atau pemurnian yang cenderungliteralis dan tekstualis. Masyarakat Jawa yang sensitif cenderung menggunakan bahasa “tepa slira” yang mengukur diri dan orang lain dengan standar rasa yang tinggi.
Download artikel lengkap: Klik disini
Entry Filed under: Vol. 6 No. 1 Jan-Jul 2008. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed