Membaca Kritik Sastra Sunda Ajip Rosidi
April 1, 2008
Oleh: Teddy A.N. Muhtadin
Abstract:
This research, by postcolonial perspective, is intended for to reveal the concept of Ajip Rosidi (AR)’s literary criticism and related to the “literary” terminology’s Dutch colonialism. From result of this research obtained conclusion that the concept of AR’s literary criticism was modern literary and was treated Sundanese literature by universal criterion, measure, and valuable. This concept do not different from literary concept was used by Sundanese literary expert included Dutch scholars. In the postcolonial context AR has performed mimicry.
Keywords: Ajip Rosidi, postcolonial, Sundanese literary.
Pendahuluan
Sastra Sunda memiliki sejarahnya sendiri, walaupun mungkin bukan sejarah yang panjang seperti sastra Arab atau India. Ia lahir entah kapan, entah pada zaman yang mana, namun jejak-jejak tertulisnya sudah tampak sejak abad ke-16.1 Dalam rentang lima abad tersebut kehidupan sastra Sunda memperlihatkan wajah yang beragam, baik genre maupun ideologi yang ada di dalamnya. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan karena kebudayaan Sunda sendiri tumbuh di wilayah strategis yang mudah menjadi ajang pertarungan berbagai kekuatan.2 Sebelum Islam tersebar luas di Sunda, Budha dan Hindu pernah menjadi anutan mereka. Rosidi mengatakan bahwa kita masih menemukan pengaruh yang kuat dari kedua agama ini dalam mantra-mantra. Begitu pula tokoh-tokoh cerita Anbiya yang berasal dari kebudayaan Arab seperti Amir Hamzah, Rengganis, dan Imam Suwangsa sudah diterima sebagai orang Sunda sebagaimana tokoh-tokoh Pandawa. Tidak terkecuali tembang Cianjuran yang menjadi salah satu kesenian khas Sunda sampai sekarang tetap menggunakan jenis puisi dangding warisan Jawa-Mataram.
Download artikel lengkap: Klik disini
Entry Filed under: Vol. 6 No. 1 Jan-Jul 2008. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed