Semakna Sastra Semulia Akhlak Bangsa Impian Bohong di Siang Bolong
April 1, 2008
Oleh: Heru Marwata
Abstract:
Finding literary benefit to nation’s moral education perhaps a momentarily task, for sake of boasting themes. Whether benefited or not is depend on us, from where we observe, with what perspective, for what and with what basis we explore, and what purpose we understand it. So, is there literary work that didn’t have moral values? Or, is there any works that potential to enhance or deprave moral? Have we enough time to know them, and discussing with intense? Even hoping that literary meaning equal as lofty nation’s moral is like “False Dream at Daylight”, never be afraid to dream, or to expand your dream, or even become dreamer, because dreams is usually not far from reality.
Keywords: literary meaning, moral values, dream.
0 Pengantar
Sengaja tulisan ini dimulai dengan pengantar bernomor poin 0 (nol = kosong, juga bermula dengan nomor halaman 0) untuk mengukuhkan asumsi penulis bahwa mengharap semakna sastra untuk memuliakan akhlak bangsa adalah mimpi—saja bohong apalagi di—siang bolong = kosong. Meskipun demikian, dengan keyakinan bahwa sulit membayangkan sastra sebagai sesuatu yang melompong, perkenankan penulis mencoba meneropong dunia bohong dan bolong itu dengan kacamata seorang pemimpi, pengharap guna (maaf, tanpa pengulangan kata) dari dunia maya.
Seandainya
Seandainya banyak orang yang setuju (mungkin termasuk Anda) bahwa sastra memiliki dua aspek atau dua sisi, formal dan moral —sambil membayangkan nama Graham Hough, penulis buku An Essay on Criticism—, salahkah orang mengharapkan ada secercah harapan panduan moral dari karya sastra? Graham Hough memberikan catatan kecil tentang kriteria moral dalam melihat sastra. Menurutnya nilai moral sastra terletak pada relevansinya dengan kehidupan. Jika demikian, bagaimana kita merumuskan nilai moral itu? Bukankah untuk karya imajinatif bermedium bahasa dengan unsur estetik dominan seperti sastra sangat mungkin terjadi perbedaan, misalnya antara maksud pengarang dengan penerimaan pembaca? Di antara sumber muarapenulis dan pembaca yang bisa berlainan itu, manakah yang akan dijadikan pedoman, kemung-kinan kebohongan pencipta atau kemungkinan kesalahan tafsir penikmatnya?
Download artikel lengkap: Klik disini
Entry Filed under: Vol. 6 No. 1 Jan-Jul 2008. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed