Keperempuanan, Emansipasi, dan Penghambaan
April 2, 2008
Oleh: Mohamad Ikhwan Rosyidi
Abstract:
This article analyze that a mites can become “model of” and “model for” reality from Sundanese people’s perspective, Nyi Rara Kidul (South beach Queen) can become model from life’s reality they face, also Roro Mendut and Dewi Candra Kirana for Javanese people, because these story contains contradictions and opposition that twofold each other. On the other side, these story became model for reality they face, both for Sundanese and Javanese, on emancipation or servitude frame. Through this activity, Javanese and Sundanese ca found their cultural identity, preserve and strengthen it. Beside that, it could reveal meaning that hidden behind every event.
Keywords: mites, Javanese, Sundanese, momisme, and emancipation.
Pendahuluan
Sampai saat ini pembicaraan tentang perempuan masih hangat dibicarakan, baik dalam forum-forum resmi maupun non-resmi. Pembicaraan ini dimulai dari hal-hal yang bersifat remeh, misalnya peran perempuan dalam rumah tangga hingga hal-hal yang sifatnya universal, seperti emansipasi dan feminisme. Pembicaraan ini terjadi karena adanya ketidakpuasan atas ketidak-sinambungan pandangan masyarakat pada laki-laki di satu pihak, dan perempuan di pihak yang lain. Sumber ketidakpuasan ini bukan pada perbedaan jenis kelamin, tetapi karena perbedaan itu diikuti dengan perbedaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Dalam bidang pergaulan, pekerjaan, pendidikan, ekonomi, keagamaan, dan masih banyak lagi, laki-laki mempunyai hak dan kebebasan yang lebih luas dibandingkan wanita yang hanya menerima keterikatan dan keterbatasan.
Download artikel lengkap: Klik disini
Entry Filed under: Vol. 5 No. 2 Jul-Dec 2007. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed