Konsep Tauhid dalam Perspektif Syaikh Nafis al-Banjari

April 3, 2008

Oleh: Atabik

Abstract:

Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari is an Indonesian eminent tasawuf thinker. His tauhid conceptions contain sufistic nuance, different with kalam nuance from folk of mutakallimin. This thought represents important contribution to Islam science discourse. His work, al-Durr al-Nafis (Beautiful Pearl) containing four main theme: wahdat al-af’al (unity of deed), wahdat asma (unity of name), wahdat sifat (unity of attribute), and wahdat dzat (unity of essence). From our studies, his views about tauhid in sufistic nuance remain in syahadah’s (testimonial) framework. Hence, he remains stick on the wahdat al-syuhud idea, contrasted with wahdat al-wujud.

Keyword: Nafis al-Banjari, tauhid, tasawuf, wahdat al-wujud, wahdat al-syuhud.

Pendahuluan

Sejarah perkembangan pemikiran Islam di Nusantara mencatat banyak pemikir dalam berbagai bidang ilmu, termasuk di bidang tasawuf. Perbincangan tentang konsep-konsep di dalam tasawuf sesungguhnya berpangkal pada perbincangan tentang konsep tauhid, yang secara literal berarti mengesakan Tuhan. Dalam perspektif Abd al-Haq Anshari, konsep tauhid dalam kepustakaan sufi memiliki makna lebih dari sekadar makna dasar di atas. Tauhid memiliki empat makna yang berbeda yakni: pertama, mengimani dan meyakini keesaan Tuhan, kedua, disiplin kehidupan lahir dan batin berdasarkan kepercayaan tersebut, ketiga, pengalaman dalam persatuan dan penyatuan dengan Tuhan, dan keempat, teosofi atau filosofi tentang kenyataan yang bertolak dari pengalaman kultural.1 Salah satu dari empat makna tauhid di atas, dielaborasi lebih jauh oleh seorang sufi Nusantara yakni Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari dalam karyanya al-Durr al-Nafis.

Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari adalah satu di antara nama besar pemikir tasawuf Nusantara. Dia adalah orang kedua yang sangat berpengaruh di Kalimantan setelah Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812). Jika Muhammad Arsyad al-Banjari lebih dikenal sebagai ahli fiqih, maka Muhammad Nafis al-Banjari lebih dikenal sebagai ahli tasawuf. Karya Nafis al-Banjari yang berjudul al-Durr al-Nafis merupakan satu kontribusi yang cukup berarti bagi khasanah intelektual Islam di Nusantara.2

Baca artikel lengkap: Konsep Tauhid dalam Perspektif Syaikh Nafis al-Banjari

Entry Filed under: Vol. 3 No. 2 Jul-Dec 2005. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pages

Categories

Recent Posts

Top Posts

Top Clicks

Blogroll

Link

 

April 2008
M T W T F S S
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Recent Comments

yunus on Sejarah Perkembangan Pesa…
ferdi10790 on Javanese Santri Islam
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
Nashih on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…

RSS Journal of Islamic Law and Culture

Archives

Meta

Blog Stats

Feeds

Spam Blocked