Dakwah dengan Pendekatan Komunikasi Persuasif

April 7, 2008

Oleh: Uus Uswatusolihah

Abstract:

The paradox realities between the splendor of islamic preaching recently and the spread of evils indicate that the implementation of islamic preaching is separated from the social realities. Among of the efforts to overcome to this problem is “re-reading” the qur’anic doctrines of Islamic Preaching (dakwah), and integrating them with social sciences especially science of communication. Among of the results of that combining is “persuasive preaching”, that is dakwah with persuasive communication approach. Persuasive preaching is preaching based on the principles of effective communication. Effective communication is communication based on audiences’ (mad’u) needs and gratifications whose different frame of references and field of experiences.

Keywords: Hikmah, Dakwah, Persuasive communication.

Pendahuluan

Salah satu fenomena yang saat ini bisa dinikmati sehari-hari adalah merebaknya aktivitas dakwah. Aktivitas dakwah kini tidak lagi hanya dapat dijumpai di tempat-tempat “konvensional “ seperti, masjid, pesantren, dan majlis taklim, tetapi dapat pula dijumpai di hotel, rumah sakit, perusahaan, radio, televisi bahkan internet. Namun, fenomena paradoks pun sering kita jumpai dan tak kalah menyentaknya, seperti maraknya tindakan kekerasan, kerusuhan sosial, pornoaksi, pornografi, korupsi, dan sebagainya.

Fenomena ini mengindikasikan masih teralienasinya dakwah dari realitas sosial masyarakat di sekitarnya. Aktivitas dakwah —sebagai proses komunikasi penyampaian ajaran ideal Islam1— selama ini tidak mempunyai kekuasaan untuk membawa masyarakat kepada perubahan ke arah yang lebih baik. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya, salah satunya karena dakwah yang selama ini dilakukan cenderung kering, impersonal, dan hanya bersifat informatif belaka, belum menggunakan teknik-teknik komunikasi yang efektif.

Situasi ini merupakan cermin wajah dakwah yang belum berpijak di atas realitas sosial yang ada. Padahal dakwah dan realitas sosial memiliki hubungan interdependensi yang sangat kuat, terkait berkelindan. Paling tidak ada dua hal penting yang dapat diungkapkan dari hubungan tersebut, yaitu: pertama, realitas sosial merupakan alat ukur keberhasilan dakwah yang sekaligus menjadi cermin sosial dalam merumuskan agenda dakwah pada tahap berikutnya. Kedua, aktivitas dakwah sendiri pada hakikatnya merupakan pilihan strategis dalam membentuk arah perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Kemampuan membaca realitas sosial ini merupakan langkah awal yang sangat efektif untuk mengembangkan dakwah Islam.

Baca artikel lengkap: 11-dakwah-dengan-pendekatan-komunikasi-persuasif

Entry Filed under: Vol. 4 No. 1 Jan-Jul 2006. Tags: , , , .

1 Comment Add your own

  • 1. titin  |  March 18, 2009 at 4:04 am

    Saya bekerja sebagai staf di institusi pemerintah daerah. sebagaimana sudah menjadi ikon di masyarakat bahwa pegawai negeri sipil kadang memiliki disiplin yang rendah karena adanya kepastian tidak akan mendapatkan pemutusan tenaga kerja, dan itu memang tidak dapat dipungkiri.

    setiap hari saya sebagai staf bergabung dengan para staf lain dan para tenaga kerja kontrak. pada jam-jam istirahat, 12.00 sampai 13.00, beberapa menit sebelum waktu adzan dhuhur, pegawai sudah siap-siap untuk pulang ke rumah apabila dekat, menjemput anak yang sekolah, bahkan ada sedikit rapat dadakan dengan atasan. tapi, untuk saya sebagai pegawai kecil, saya berusaha menyempatkan diri solat berjamaan di mesjid kantor yang peserta solatnya jajaran lelali kurang dari satu baris, dan untuk perempuan seperti biasa hanya diikuti oleh sayau dan dua atau tiga teman lain. untuk teman satu kantor, susah sekali mengajaknya dengan sepersuasif apa pun, kecuali apabila ada penekanan dengan pengaruh kekuasaan atasan. namun, kadang atasan pun lalai dan melakukan perintah pada jam-jam kita seharusnya melakukan solat duhur. teman-teman saya, apabila saya ajak solat ke mesjid kantor untuk berjamaan tentu menolak, malahan mereka senang jalan-jalan mencari makan siang pada saat adzan duhur berkumandang. saya terkadang malu dengan perilaku demikian dan menolak ikut makan atau jalan pada saat adan duhur, malu dengan pakaian dan atribut pegawai pemerintah yang berkesan malas dan banyak santainya.
    bagaimana sikap saya seharusnya menegakkan dakwah persuasif ini! saya kadang di mesjid hanya bertiga/berempat seperti biasa dengan orang yang sama. kadang saya bisa mengajak satu orang, tapi itu juga susah.

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pages

Categories

Recent Posts

Top Posts

Top Clicks

Blogroll

Link

 

April 2008
M T W T F S S
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Recent Comments

yunus on Sejarah Perkembangan Pesa…
ferdi10790 on Javanese Santri Islam
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
Nashih on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…

RSS Journal of Islamic Law and Culture

Archives

Meta

Blog Stats

Feeds

Spam Blocked