Menelusuri Akar Pencitraan Perempuan dalam Islam

April 7, 2008

Oleh: Sumiarti

Abstract:

Theological assumptions about woman creation and role in human’s downfall to earth have been believed as religious (Islamic) teaching. Then, this assumption enters the religious interpretation region so that believed as Allah’s teaching with absolute truth. Assumption which have been believed as religious teaching that contains bias and inequality between men and woman later; then become justification tools which powerful enough to construct the nature, role, and behavior of ideal woman and men. Religious community will always refer the teaching to assess the social practice of men and woman, whether according or not with that teaching. Here religion often misunderstood, i.e. religion as divine revelation or Islam as individual interpretation to that divine revelation.

Keywords: women’s image, women’s role, ideal man men and women, women’s position in Islam.

Pendahuluan

Berkembangnya pembicaraan tentang isu perempuan dan gender di kalangan Islam merupakan babak baru dalam khasanah intelektualisme Islam yang dianggap sudah final. Formulasi mengenai relasi laki-laki dan perempuan pada umumnya, dan pencitraan bagi perempuan pada khususnya dianggap merupakan cermin dari “kehendak” Tuhan atau “kodrat” dari Tuhan. Oleh karena itu, perbincangan mengenai isu-isu perempuan di dalam Islam dianggap sudah selesai, tidak memerlukan interpretasi dan formulasi baru. Hal ini mengundang banyak pertanyaan setelah isu-isu mengenai kesetaraan gender dan posisi perempuan direspon secara positif dan negatif oleh masyarakat. Isu kesetaraan laki-laki dan perempuan, sudah menjadi bagian dari isu Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi yang dianggap sebagai standar global yang harus dilaksanakan oleh semua negara di dunia. Di Indonesia, isu ini sangat marak, khususnya setelah tahun 90-an yang ditandai dengan maraknya diskusi, seminar, advokasi, penerbitan, dan sosialisasi yang gencar melalui lembaga swadaya masyarakat (Non-Government Organization) yang mengurusi masalah perempuan. Sosialisasi kesetaraan dan keadilan gender merambah ke segala lapisan masyarakat, tak terkecuali ke kalangan Islam.

Islam sebagai agama yang diyakini rahmat li al-’alamin kemudian mendapatkan sorotan. Sebagian kajian menyimpulkan bahwa Islam adalah agama misoginis jika dilihat dari formulasi ajaran-ajarannya yang mengandung bias laki-laki, berpihak kepada laki-laki. Mengingat persoalan ini penting, maka akan sangat menarik menelusuri tentang proses panjang formulasi mengenai pencitraan Islam terhadap perempuan dan relasi gender secara lebih seksama. Penelusuran terhadap akar pandangan akan dimulai dari kajian teologis mengenai posisi perempuan dan Islam, kemudian contoh dan wujud nyata formulasi pencitraan perempuan dalam fiqh, lalu dianalisis.

Baca artikel lengkap: 10-menelusuri-akar-pencitraan-perempuan-dalam-islam

Entry Filed under: Vol. 4 No. 1 Jan-Jul 2006. Tags: , , , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pages

Categories

Recent Posts

Top Posts

Top Clicks

Blogroll

Link

 

April 2008
M T W T F S S
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Recent Comments

yunus on Sejarah Perkembangan Pesa…
ferdi10790 on Javanese Santri Islam
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
Nashih on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…

RSS Journal of Islamic Law and Culture

Archives

Meta

Blog Stats

Feeds

Spam Blocked