Slametan dalam Kosmologi Jawa: Proses Akulturasi Islam dengan Budaya Jawa

April 7, 2008

Oleh: Suwito N.S.

Abstract:

Slametan is one of uniqueness of Javanese culture. This tradition adopted many generations, especially by people around Kraton. This tradition implicitly shows human lowly position before the One that Holy and Powerful, namely God of the universe. On some portion of Javanese community, this ritual also addressed to their ancestor’s spirits or holy spirit as offerings. Pagebluk or natural disaster is a symbol of that holy spirit’s fury. This culture can’t be denied as derivative of Javanese origin that have long history, influenced by animism, dynamism, Hindu-Buddha, and Islam.

Keywords: Java, Slametan, and God.

Pendahuluan

Jawa (Java), atau sebutan lain seperti Djawa Dwipa atau Djawi adalah pulau yang bila diukur dari titik terjauh, memiliki panjang lebih dari 1.200 km, dan memiliki lebar 500 km. Pulau ini terletak di tepi selatan kepulauan Indonesia, kurang lebih tujuh derajat sebelah selatan garis katulistiwa. Karakter khas pulau ini adalah formasi geologi tua yang dimilikinya, berupa deretan pegunungan dari Himalaya dan Pegunungan Asia Tenggara. Luas pulau ini hanya 7% dari seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Tetapi anehnya, dia memiliki penduduk hampir 60% dari seluruh penduduk Indonesia.1

Sementara itu, yang dimaksud orang Jawa atau Javanese menurut Magnis Suseno adalah orang yang memakai bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dan merupakan penduduk asli bagian tengah dan timur pulau Jawa.2 Sementara Tony Whitten, sebagaimana dikatakan oleh Roehayat Soeriatmadja dan Suraya Afiff, The Ecology Java and Bali (1996) mengatakan bahwa penduduk asli pertama Pulau Jawa adalah mirip dengan suku Aborigin di Australia. Mereka disebut Austroloid. Namun demikian, kemudian mereka tersingkir oleh pendatang dari Asia Tenggara. Mereka tidak dapat hidup di Jawa, tetapi saat ini keturunan mereka dapat ditemukan di suku Anak Dalam atau Kubu di Sumatera Tengah atau di Indonesia bagian timur.

Menurut Kuntjaraningrat dalam Javanese Culture (1985) sebagaimana disinyalir oleh Bintoro Gunadi3 bahwa pada sekitar 3.000 – 5.000 tahun lalu arus pendatang selanjutnya yang disebut proto-Malay datang ke Jawa. Keturunan mereka saat ini dapat dijumpai di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Tengger di Jawa Timur, Dayak di Kalimantan, dan Sasak di Lombok. Setelah itu, gelombang pendatang yang disebut Austronesia atau Deutro-Malay yang berasal dari Taiwan dan Cina Selatan datang melalui laut ke Pulau Jawa, sekitar 1.000 – 3.000 tahun silam. Sekarang keturunannya banyak tinggal di Indonesia bagian Barat dengan keahlian bercocok tanam padi, pengairan, membuat barang tembikar/pecah belah, dan kerajinan dari batu.

Baca artikel lengkap: 6-proses-akulturasi-islam-dengan-budaya-jawa

Entry Filed under: Vol. 5 No. 1 Jan-Jul 2007. Tags: , , , , , , .

12 Comments Add your own

  • 1. rendra  |  May 22, 2009 at 6:17 am

    yang tidak ada contohnya dari rasulullah Muhanmmad bin Abdullah Salallahu ‘alaihi wasallam adalah BID’AH. Slametan bukan ajaran ISLAM

    Reply
  • 2. Azhar Abdillah  |  May 29, 2009 at 9:58 pm

    Slametan bukan ajaran islam ? Maaf,saya tidak pandai agama islam, tapi benarkah slametan keliru dari kacamata ajaran islam ? Lalu bagaimana kita untuk slamet dunia akhirat ? Alangkah mudah_nya orang mengatakan bid’ah ! Apakah hanya cukup dengan membaca 2 kalimah Syahadat, sholat, puasa, bayar zakat, haji kalau mampu, kita selamat dunia akhirat ?

    Reply
  • 3. Birowo Suprayogi  |  May 29, 2009 at 10:17 pm

    Yang tidak ada contohnya dari Rosululloh SAW Muhammad bin Abdullah banyak sekali di sekitar kita, tetapi hampir seluruh manusia iNDONESIA UMUMNYA, DAN JAWA khususnya, di zaman yang sekarang yang katanya modern dan orang merasa lebih pandai dan GOLONGANnya paling benar, nyatanya banyak melakukan yang Rosululloh tidak melakukan ! Apa itu juga bid’ah ? HADIST ADA 2 KATEGORI ! Pertama adalah segala yang di ucapkan Nabi SAW dan KE DUA adalah segala perbuatan yang di lakukan Nabi SAW. Contoh, Nabi SAW pada saat itu tidak pernah makan sayur terong, sayur kangkung, tapi makan kurma dan roti dari gandum, juga tidak naik motor ataupun mobil, tapi naik unta ataupun kuda ! Apa kita menjadi BID’AH karna makan kita tidak seperti apa yang di makan Nabi SAW ? Apa kita juga BID’AH karna tidak naik kendaraan seperti yang di kendarai Nabi SAW ?

    Reply
  • 4. Aditya99  |  May 29, 2009 at 10:45 pm

    Dikatakan bid’ah, kalau kalian umat Nabi SAW mengadakan sesuatu ibadah yang baru ! Misalkan soal, kelewat rajin sholat, seseorang yang mestinya sholat dzuhur 4 roka’at menjadi 6 rokaat atau lebih ! Itulah yang dinamakan mengadakan ibadah yang baru DAN atau karena hal sholat sudah ada ketentuannya, sehingga sholat dzuhur yang 4 roka’at di rubah menjadi 6 roka’at,orang yang melakukannya menjadi BID’AH dan SETIAP BID’AH ITU DOSA, karna itu tidak di contohkan Nabi Agung Muhammad SAW. Tapi, kalau saudara dapat rizky melimpah, lalu SLAMETAN, dengan asumsi yang dimaksud berbagi rizky dengan tetangga ( beramal sholeh), sambil berdoa bersama,sepertinya ga ada masyalah ! Moso berdoa dengan membaca kalimat2 thoyyibah dosa si ? Malah menjadi sarana dzikir/mengingat kepada Alloh SWT bersama tetangga dan handai taulan.
    .

    Reply
    • 5. pangeran  |  August 15, 2009 at 6:04 am

      orang selalu bilang doa apa sih yang disebut dosa oarng berbuat baik kok salah
      divinisi dosa itu apa
      api Allah yang membakar hatinya manusia tidak satupun manusia lain mengetahui ( kalau bisa memamhamii ini pastiklah kita tidak semudah bilang itu salah itu dosa ) arab dan jawa itu beda
      didalam kita dijelaskan Allah menciptakan makluk dimuka bumi untuk menyembah dengan caranya sendiri sendiri
      Allah selalu memberi wahyu sampai kapanpun terhadap manusia yang dipilih jangan lah terpaku ajaran yang lampau sehingga seakan akan Allah itu kalah dengan Nabi

      Reply
  • 6. Burhanudin  |  May 29, 2009 at 10:49 pm

    11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

    Reply
  • 7. Willis Sri Wulandari  |  May 29, 2009 at 10:51 pm

    12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

    Reply
  • 8. Suparmo  |  May 29, 2009 at 11:06 pm

    Kadang bocah ga ngerti agama aja ngomong !!!! Baru tahu fatihah,sudah ngomongin bid’ah ! sama saja yg bicara tahlil bid’ah ! masa orang baca LAA ILLAAHA ILLAALLOOHU bid’ah ? yang benar aja,brooo…???? coba baca firman Alloh SWT dalam surat Muhammad, ayat ke 19, yang artinya :

    19. Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

    Makna ayat di atas, Alloh SWT sahaja menyuruh kepada Nabi SAW, bila meminta ampun akan dosa2nya jangan minta ampun hanya untuk dosanya sendiri, tapi supaya mintakan ampunan jg buat saudaranya mukmin laki2 dan perempuan, dan Alloh SWT, tahu akan usaha hamba2nya yg saling memintakan ampunan dan Alloh SWT tahu akan hambanya yang masih hidup tinggal di dunia maupun yang sudah tinggal di akhirat !

    Reply
  • 9. Tukiman  |  May 29, 2009 at 11:20 pm

    sing kondho slametan bid’ah, cah ra ngerti amal sholeh ! bocah pelit ! memang di ajari kikir sama bapak ibune utowo nang golongane pancen di doktrin ben kikir ! rampung sholat yo mlayu, ra perlu dzikir, kuwi golongane wong males ngibadah pancene ! agamane mung nggo lamis ! mulane ngaji sing pener ! ilmu tauhid, lan tarikh nabi di sinauni sit ! mengko dadi ngerti ! kuwi wae kudu lawan roso, ojo nganggo dengkul ! Awwalu wajibin ‘alal insani marifatul illaahi bistiqoni ! Ngert ora maksude ? Mulo ngaji, yen ngaji ojo TAQLID ! Upomo ditawani ngunjuk TEH MANIS, durung di unjuk wis ngarani ASIN, yo ra nalar ! Di unjuk sit, mengko dadi ngerti bedane ASIN lan MANIS ! islam kuwi ra segampang mung kondho !

    Reply
  • 10. Dalimin  |  May 30, 2009 at 5:45 am

    Orang seperti RENDRA itu pasti ngertinya NASI SUDAH MASAK baru seneng hati,terus TEPUK TANGAN. Ga bakal ngerti cara mendekat Alloh swt, boro2 nyari seperti Nabi2 Alloh.

    Reply
  • 11. Nashih  |  August 6, 2009 at 4:00 am

    Abdullah Diraz, seorang ulama Al Azhar, Mesir, dalam bukunya al mizan baina al sunnah wa al bid’ah, setelah memaparkan dalilnya, dengan tegas mengatakan, tidak semua yang baru dalam agama serta merta dikatakan bidah….jika kita mengikuti pendapat ini, tentu, slametan yang pada pada intinya adalah tasyakuran, wujud bersyukur kepada Allah tidak dikategorikan bidah

    Reply
  • 12. pangeran  |  August 15, 2009 at 6:17 am

    kita itu sering ngomong percaya dengan ajaran Nabi Nabi tapi yang kita percayai dan jalakan hanyalah ajaran Nabi.Muhamad padalah sering bilang semua Nabi itu islam trus apa maknanya
    belajarlah mengerti tentang Orang beragam Islam dan orang islam
    tidak semua Nabi Itu beragama islam contoh Isa dengan injilnya Musa dengan taurotnya Daud dengan Zaburnya tapi Semua Nabi itu Islam asalnya dari Allah akan kembali ke Allah
    seperti Mohamad kala ditanya Jibril apabila suruh milih harta tahta dan kemuliaan kamu milih apa jawab Moh amad aku hanya ingin inalillahi Wa ina illah ihi Rojiun mudah mudah bisa memahami suatu ajara dalam qur’an dikatakan yang kamu agap baik belum tentu baik bagimu yang kamu agap jelek belum tentu jelek bagi apa yang tidak kamu ketahui Allah Maha tahu

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pages

Categories

Recent Posts

Top Posts

Top Clicks

Blogroll

Link

 

April 2008
M T W T F S S
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Recent Comments

yunus on Sejarah Perkembangan Pesa…
ferdi10790 on Javanese Santri Islam
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
Nashih on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…

RSS Journal of Islamic Law and Culture

Archives

Meta

Blog Stats

Feeds

Spam Blocked