Tradisi Maulid: antara Pro dan Kontra

April 7, 2008

Oleh: Supani

Abstract:

Pros and contra view about existence of maulid tradition substantively didn’t contradict one another. Opposition by externality is needed to create balance principle (equilibrium). Its well Balanced because placing Prophet as chosen human being which his birth proper to be commemorated, but at the same time have to consider norm that enacted by Prophet himself. Commemoration of maulid has special position in the heart of Indonesian Moslem community. This is the single commemoration of Islamic holiday carried out in State Palace (Istana Negara). The First President of RI has escrow to whom even becoming his substitution to always carry out the commemoration of birthday of Prophet of Muhammad SAW in Presidential Palace.

Keywords: Prophet, maulid tradition, State Palace.

Pendahuluan

Maulid sering disebut ‘maulud’ yang berarti ‘tempat atau saat kelahiran’. Dalam kehidupan kaum muslim yang dimaksud dengan maulid adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW yang lahir pada 12 Rabi’ul Awwal 570 M, dan bulan itu disebut bulan Maulid atau bulan Mulud (Jawa).

Sejak awal peringatan Maulid Nabi SAW itu diperkenalkan pertama kali oleh penguasa Dinasti Fatimiyah (341 H/953 M – 365 H/975 M) sudah menuai pro dan kontra. Oleh karena peringatan seperti itu belum/tidak pernah dilakukan oleh nabi sendiri dan sahabat-sahabatnya. Artinya, aktivitas tersebut adalah rekayasa manusia yang mentradisi di kalangan umat muslim. Oleh karena tradisi, tentu ada yang setuju dan tidak berdasarkan dalil, baik berupa nash al-Qur’an dan sunnah maupun dalil fakta lapangan terkait pelaksanaan peringatan itu sendiri. Persoalan ini menjadi menarik dibahas karena ritual adat/’urf1 seperti ini tidak dapat dipungkiri merupakan hasil kebudayaan yang diciptakan kaum muslim sendiri, bahkan oleh suatu kelompok diyakini sebagai manifestasi keyakinan dan digunakan sebagai syiar Islam khas daerah tertentu. Pertanyaannya, bagaimana dalil yang digunakan masing-masing pendapat itu relevansinya dengan hukum boleh tidaknya peringatan Maulid Nabi? Dan bagaimana pula batas kebolehan dan ketidakbolehannya?

Baca artikel lengkap: 5-tradisi-maulid-antara-pro-dan-kontra

Entry Filed under: Vol. 5 No. 1 Jan-Jul 2007. Tags: , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pages

Categories

Recent Posts

Top Posts

Top Clicks

Blogroll

Link

 

April 2008
M T W T F S S
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Recent Comments

yunus on Sejarah Perkembangan Pesa…
ferdi10790 on Javanese Santri Islam
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
Nashih on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…

RSS Journal of Islamic Law and Culture

Archives

Meta

Blog Stats

Feeds

Spam Blocked