Posts filed under 'Vol. 2 No. 1 Jan-Jul 2004'
Kontradiksi, Ironi, dan Keterbatasan Manusia Post-Modern di Indonesia
Oleh: Faruk
Abstract:
Post-modern discourse have been ended since long time ago, but discourse about several issues around it as difference, decentralization, globalization, pluralism, multiculturalism, gender equality, still continued. Foreign investment not increased greatly yet, but the everyday life landscape of Indonesian people have been fully loaded by image world, signs, words like a bunch of advertisement and colorful posters at streets, shopping bag, t-shirt, and so on. Information explosion also have became everyday reality in Indonesia. Abundant information’s flows, mass media booming—printed or electronic—, books booming, far beyond absorption capacity of information consumer community, so it’s became a series of images that still flows, between exist and extinct.
Keyword: kontradiksi, ironi, manusia post-modern.
I. Pendahuluan
Perkembangan Kapitalisme, dan Perkembangan Sastra Modern Berbeda dari karya ilmiah dan karya filsafat yang cenderung diskursif, karya seni, termasuk karya sastra, entah dalam genre puisi ataupun prosa, cerpen ataupun novel, cenderung mengajak pembaca bukan untuk memahami dunia, melainkan mengalaminya (kembali). Karya seni, dengan berbagai bentuk dan genrenya, dengan demikian, lebih cenderung me(re-)pre-sentasikan kehidupan daripada mengkonseptualisasikannya.
Namun, dalam me(re-)presentasikan dunia itu karya seni bukanlah sebuah cermin yang bening, sepenuhnya transparan. Karya seni, bahkan bentuk-bentuk dan genre-genrenya, mempunyai format tertentu yang mempengaruhi bangunan dunia yang di(re-)presentasi-kannya itu. Format itu antaralain ditentukan oleh kondisi material atau substansialnya, yang antara lain menyangkut media yang digunakannya, substansi visual, auditif, taktikal, dll., juga oleh kondisi historis-kulturalnya yang antara lain menyangkut konteks produksi, reproduksi, dan referensialnya.
Baca artikel selengkapnya: Kontradiksi, Ironi, dan Keterbatasan Manusia Post-Modern di Indonesia
Add comment April 3, 2008
Tasawuf Cinta dalam Sastra Sufi
Oleh: Abdul Wachid B.S.
Abstract:
Love is a source wherefrom the relation between God and His Creature—namely man and universe—exist. Therefore, love becomes significant topic in the tasawuf, which always reveal the relation between these three entities. This consideration give love a peak position at the tasawuf. From this reason, the importance of understanding of their love concept emerged, when we examine Sufi’s poem and sufistic poetry.
Keyword: Tasawuf Cinta, Sastra Sufi.
Pengantar
Cinta merupakan sumber dari hubungan antara Tuhan dengan ciptaan-Nya, yakni manusia dan alam semesta. Oleh karenanya, cinta menjadi tema penting di dalam tasawuf, yang memang selalu mengungkap hubungan antar-ketiganya. Pemahaman demikian di antaranya yang memposisikan cinta menjadi peringkat tingkatan tertinggi di dalam tasawuf. Oleh sebab itu, memaknai perpuisian karya sufi (perpuisian sufisme) dan perpuisian sufistis haruslah dipahami konsep cinta mereka.
Baca artikel lengkap: Tasawuf Cinta dalam Sastra Sufi
4 comments April 3, 2008
Jati Diri Semar (Konteks Pakeliran dan Kosmologi Jawa)
Oleh: Nawawi
Abstract:
Semar in wayang show is a mysterious figure. His ambiguous character makes various kinds of interpretation. His history, existence and character in wayang show are always studied by many observers for study purpose. Semar is the assistant of royalty and also a joker. The existence of Semar at the story of Sudamala emphasized and reappeared divinity concept. According to Hazeu, Semar really is a joker or assistant commonly. The jokes are especially a primitive inheritance from ancient era. So, actually Semar is a name of Javanese ancestor and its imagination had been appeared at wayang show from the ancient era.
Keyword: Jati diri, kosmologi, semar.
Pendahuluan
Tokoh semar hampir selalu muncul dalam setiap pentas wayang purwa, tidak saja pada lakon carangan yang dikutip dari babon epik Mahabarata dan Ramayana. Penampilan dan perannya yang ambiguous mengundang penafsiran yang beraneka ragam. Misteri posisi Semar menarik untuk ditelaah dalam kancah modernisasi dan globalisasi yang melanda segala pelosok penjuru dunia. Ini penting agar bangsa Indonesia tidak terlalu jauh terperangkap ke dalam peradaban global dan melupakan akar budayanya. Lantaran tokoh Semar ini tidak tercantum di dalam cerita Mahabarata asli, maka tokoh ini tentunya merupakan sisipan dalam pakeliran wayang, yang direka oleh orang Jawa sendiri.
Banyak telaah tentang tokoh Semar ini yang telah dilakukan, baik oleh sarjana asing maupun sarjana Indonesia. Kesan pertama peran Semar adalah sebagai punakawan, yaitu pamong para ksatria, yang dikategorikan sebagai wayang tengen yang merupakan representasi dari sifat-sifat baik dan bijak pada diri manusia.
Selain itu, Semar juga berperan sebagai tokoh banyolan penghibur para ksatria dan secara praktis bagi penonton. Telaah yang agak mendalam adalah yang telah dilakukan oleh Sri Mulyono dan Franz Magnis-Suseno. Tulisan ini berupaya mengorganisasi kembali pendapat Sri Mulyono yang saya anggap agak simpang-siur, namun telah menyajikan fakta yang amat mengesankan. Sekaligus di sini saya akan menganalisis interpretasi Magnis-Suseno tentang peran Semar sebagai pamong dalam perjalanan hidup manusia, yang disejajarkan dengan konsepsi pamong dalam teologi monotheisme.
Baca artikel lengkap: Jati Diri Semar
1 comment April 3, 2008
Miqat dan Mahram Jamaah Haji Indonesia
Oleh: Iin Solikhin
Abstract:
Pilgrimage is one of five pillars of Islam that must be performed by wealthy Moslem. There are some rules that must be obeyed; for example, the place to start ihram –consecration for use in the pilgrimage to Mecca— (miqat makani). For Indonesian pilgrim, the place to start ihram actually is Yalamlam. But the fact, Indonesian pilgrim doesn’t start it there. Also, the obligation for female pilgrim to have mahram (male relative accompanying the pilgrimage) that is done by choosing someone to be the mahram must be recheck. It must be understood in accordance with its goals without ignoring the harmful activity.
Keyword: ihram, miqat.
Pendahuluan
Sebagai makhluk Tuhan, manusia diciptakan tidak hanya untuk menghuni persada bumi ini, tetapi lebih jauh manusia diciptakan untuk mengabdikan diri kepada sang Khaliq. Pengabdian yang dimaksud secara umum adalah melaksana-kan tugas sebagai pemegang amanat Allah di bumi ( khalifah fi al-ardh) dan salah satu bentuk realisasinya adalah ibadah (ritual-ritual) khusus seperti shalat, zakat, puasa, dan haji.
Khusus berkenaan dengan ibadah haji, Allah telah mewajibkan dengan firman-Nya: “Allah telah mewajibkan kepada seluruh manusia yang mempunyai kemampuan (istatha’ah) untuk melaksanakan ibadah haji” (Q.S. Ali Imran : 97).
Baca artikel lengkap: Miqat dan Mahram Jamaah Haji Indonesia
Add comment April 3, 2008
Al-Syafi’i sebagai Bapak Ushul Fiqh
Oleh: M.H. Mukti
Abstract:
The Science of Islamic Legal Theories appeared at the second century of Islamic Calendar, but logical use to understand Islamic law had been used at the disciples of prophet, for example, Qiyas and Mashlahah that was used by Umar. It’s also happened at the next period before the coming of al-Syafi’i by the appearance of two groups of understanding Islam, ahl al-hadits and ahl al-ra’yu. Those two ways haven’t become a systematic methodology of understanding Islamic law and it isn’t an independent science. The science of Islamic legal theories was firstly put into book form at 150 – 204 AH by Muhammad Ibnu Idris al-syafi’i.
Keyword: Ijtihad, ijma’, qiyas.
Pendahuluan
Al-Qur’an pada mulanya diwahyukan sebagai respon terhadap situasi masyarakat tertentu, yang kemudian secara alamiah tumbuh dan berkembang lebih luas, dengan tersebarnya Islam ke berbagai penjuru.1
Al-Qur’an hanya memuat sebagian kecil hukum-hukum terinci, dan sunah yang terbatas pada kasus-kasus yang terjadi di masa Rasulullah, maka untuk memecahkan persoalan-persoalan baru, terutama yang berhubungan dengan peradaban masyarakat (muamalah) diperlukan adanya ijtihad.
Sahabat-sahabat Nabi dan para tabi’in dalam ber-ijtihad tidak menemukan kesulitan yang berarti, dikarenakan penguasaannya tentang bahasa al-Qur’an, bahasa Arab, dan mengetahui pula sebab-sebab turunnya, rahasia-rahasia syari’at dan tujuannya. Kesemuanya ini disebabkan karena kedekatan mereka dengan Nabi Muhammad, di samping kecerdasan mereka. Mereka tidak memerlukan peraturan-peraturan istinbat (mengambil sesuatu langkah hukum), sebagaimana mereka tidak membutuhkan kaidah-kaidah untuk mengetahui bahasa mereka sendiri (bahasa Arab).
Sepeninggal Rasulullah sesudah Islam meluas bersamaan ter-sebarnya para ulama ke berbagai negeri, banyak dijumpai peristiwa-peristiwa baru yang timbul dalam segala aspek kehidupan terutama masalah hukum.
Baca selengkapnya: Al-Syafi’i sebagai Bapak Ushul Fiqh
Add comment April 3, 2008
Riba dan Etika Bisnis Islam (Telaah atas Konsep Riba ‘Kontemporer’ Muhammad Syahrur)
Oleh: Jamal Abdul Aziz
Abstract:
In Islamic business ethics riba is obviously prohibited and must be avoided. But the meaning and definition of riba is not so clear for the jurists and scholars of Islamic laws since early period of Islam till now. Therefore riba always become one of the most attractive topics in Islamic laws inviting many Muslim scholars all along the history of Islam to introduce their opinions and theories of riba. One of them is Muhammad Shahrur, a Syrian contemporary Muslim scholar who introduces the theory of limits in Islamic law in his book, al-Kitab wa al-Qur‘an: A Contemporary Reading. In this book he introduces his new attractive interpretation of riba based on such theory. According to him, there are two kinds of riba, allowed riba and prohibited riba, according to the relatively conditions of each party, between borrower and lender. In this article such new interpretation of riba termed as ‘contemporary’ riba, because such interpretation was explained in such book that its main feature is ‘contemporary’ reading.
Keyword: riba, etika bisnis, teori batas, batas atas, dan batas bawah.
Pengantar
Dalam hukum ekonomi Islam (muamalat) etika bisnis merupakan hal yang tak dapat dipisahkan dari kegiatan ekonomi secara keseluruhan1. Dalam melakukan perjan-jian (akad, kontrak), misalnya, ditentukan unsur-unsur yang harus ada beserta syarat sahnya agar kepentingan semua pihak terlindungi. Di antara syarat bagi keabsahan suatu perjanjian bisnis adalah tidak mengandung riba.2
Keterlibatan riba dalam sebuah kontrak bisnis akan berakibat bisnis tersebut tidak sah (batil). Kontrak bisnis yang batil dipandang tidak pernah terjadi menurut hukum sehingga tidak mempunyai akibat hukum sama sekali, meskipun secara material pernah terjadi.3 Hal ini dikarenakan, berdasarkan sejumlah ayat dan hadis, praktik riba dilarang. Kecaman keras terhadap riba dapat dilihat dari digunakannya ungkapan yang paling tandas yang tidak digunakan untuk bentuk-bentuk dosa lainnya.4
Download artikel lengkap: Riba dan Etika Bisnis Islam
Add comment April 3, 2008
Dakwah Pembangunan (Sebuah Model Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan)
Oleh: Sulkhan Chakim
Abstract:
Preaching is transformation process of Islamic values and doctrines to the society. It’s hoped that there will be a positive change. That point of view is an effort for thought, feeling and desire change. Preach of development is all kind of society development to bring an Islamic social, economic, and cultural order into reality. The stress on preach of development in rural area is rural society empowering with value oriented and people centered development model. Through this kind of approach, it’s hoped that the preacher can create a religious awareness and support the initiative and creativity of the society as the main variable in preaching.
Keyword: Dakwah dan Pembangunan.
Pendahuluan
Pelaksanaan pembangunan di Indonesia sebetulnya sejak awal diarahkan untuk mewujudkan pemerataan. Hakekat pembangunan nasional adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya dan seluruh masyarakat. Cita-cita tersebut tidaklah mudah untuk diwujudkan. Menurut Mubiyarto1 bahwa pengalaman membangun ekonomi Indonesia secara berencana selama 28 tahun (1969-1997) penuh dengan suka-duka, kondisi kemiskinan yang luar-biasa. Apalagi setelah diterpa badai krisis yang berkepanjangan hingga saat ini tahun 2004, masyarakat semakin sekarat/tak pernah bangkit, terutama masyarakat pedesaan.
Download artikel lengkap: Dakwah Pembangunan
Add comment April 3, 2008
Pembaharuan Islam (Memahami Makna, Landasan, dan Substansi Metode)
Oleh: Fauzi
Abstract:
Islamic reformation is an actual and controversial discourse in the history of Islamic thought. There are groups that considered Islamic reformation is a compulsion for actualization and contextualization of Islamic teaching; but the other refused it. They refused it because they considered that reformation contradicted with the character of Islamic absoluteness. Besides, they also think that reformation is product of western culture whereas it’s the adversary of Islam politically and culturally. This article will discuss about the essence of Islamic reformation; what the basis for Islamic reformation is; and, how the implementation of Islamic reformation is. From the analysis, it’s showed that Islamic reformation (tajdid) is a compulsion because the teaching of Islam pursued the efforts of rationalization and contextualization in accordance with the era. The compulsion of Islamic reformation needs three important things: theological base, base of norm, and historical.
Keyword: Islamic reformation (tajdid).
Pendahuluan
Salah satu bidang kajian Islam yang secara intens dilakukan pengkajian oleh kalangan akademisi, ilmuwan, dan pemerhati Islam adalah tentang pembaruan dalam Islam. Hal ini terlihat dari banyaknya kajian yang membicarakan tema tersebut, baik mengenai sejarahnya, maupun tokoh, serta pemikiran pembaruannya.
Adanya intensitas perbincangan dan pengkajian tersebut, menunjukkan bahwa di kalangan umat Islam, khususnya di kalangan para ilmuwan Islam, telah terbangun suatu pandangan bahwa pembaruan Islam merupakan suatu keniscayaan sekaligus sebagai konsekuensi logis dari pengalaman ajaran Islam.
Download artikel lengkap: Pembaharuan Islam
Add comment April 3, 2008
Islam dan Komunikasi Global
Oleh: Abdul Basit
Abstract:
The position of Islam in this global era hasn’t showed a significant role. The Western hegemony still significantly dominates the global communication. All of this is caused by western intervention. In such position, instead of doing nothing, Islam must make a systematic effort to play its role at the global era. The efforts are: firstly, making Islam as the source of vital civilization; secondly, constituting a harmony of press corporation with western countries; thirdly, increasing Moslem ability in mastering science and technology.
Keyword: konflik, globalisasi.
Pendahuluan
Komunikasi global merupakan salah satu kekuatan yang sedang berkembang dewasa ini. Kehadirannya telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, budaya, militer, dan sebagainya. Kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan yang berjalan di dunia internasional tentu-nya tidak terlepas dari adanya peran komunikasi secara global. Persoalan yang menarik untuk dibahas bagaimana dunia Islam dalam menghadapi persoalan komunikasi global tersebut. Peran apa yang dimainkan oleh Islam dalam percaturan komunikasi global, serta upaya apa yang mesti dilakukan agar Islam dapat berperan secara signifikan dalam komunikasi global?
Agar dapat menjelaskan secara sistematis dan koheren, terlebih dahulu dijelaskan tentang sejarah dan bentuk-bentuk yang ada pada komunikasi global. Pembahasan ini penting dilakukan agar dapat memetakan posisi Islam dalam percaturan global, dan dapat mem-berikan kerangka yang jelas dalam membangun perannya. Selain itu, juga perlu dilihat kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh Islam secara inheren. Karenanya, perlu dilacak tentang adanya nilai-nilai dan tradisi-tradisi yang ada pada Islam berkenaan dengan komunikasi.
Download artikel lengkap: Islam dan Komunikasi Global
Add comment April 3, 2008