Posts filed under 'Vol. 3 No. 2 Jul-Dec 2005'

Seni Mengajar Bahasa Arab pada Usia Anak-anak

Oleh: Muhammad Mukti

Abstract:

Learning Arabic language is urgent for Muslim, and children is most potential age to study foreign Ianguage. Learning process needed appropriate method, strategy and teaching art. There are some strategies which can be selected (or blend each other): play, speaking, demonstration, project, and tell a story strategy. In order mastering language and speak fluently, customization also important element. ‘The art of teaching’ on learning Arab Ianguage is teacher activity which must be conducted with knowledge, skill and individual style to prepare the pupil at best condition to learn aesthetic and effective Arab Ianguage. To create student’s beautiful feeling, teacher has to create good relation with them, attractive, full of affection, and responsive. Teaching is rather an art than a science.

Keywords: teaching art, learning, children, teaching strategy, Arabic language.

Pendahuluan

Menguasai Bahasa Arab merupakan kebutuhan yang sangat urgen bagi umat Islam. Hal ini karena sumber ajaran Islam secara orisinil diturunkan dalam Bahasa Arab. Tanpa mempelajari Bahasa Arab, mustahil hukum Islam akan dapat diketahui dan bahkan ditegakkan. Kaitannya dengan mempelajari bahasa, kita tidak bisa terlepas dari metode/cara, strategi, dan seni mengajar. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas metode, strategi, dan seni mengajar bahasa Arab bagi anak-anak. Usia anak-anak adalah usia yang paling mudah untuk mempelajari bahasa, dan penyampaian materi pada anak-anak tentulah berbeda dengan cara penyampaian untuk orang dewasa.

Baca artikel lengkap: 9-seni-mengajar-bahasa-arab-pada-usia-anak-anak1

Add comment April 7, 2008

Atmosfir Akademis dan Nilai Estetik Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Oleh: M. Slamet Yahya

Abstract:

Academic atmosphere in Ta’lim al-Muta’allim, a work of Imam Burhan ad-Din al-Zarnuji, have very high sufistic-pedagogic nuance. This is explicit on its thought that based on tasawuf terms. Wara’, tawaddhu’, ridha, ikhlas, and patient concepts represent the keywords in learning process. These concepts were implemented in “micro” social area, as “ laboratory”, which called education. The laboratory expected to become tip-of-lance of values implementation, which have sufistic-paedagogic nuance. From this, will born intellectual agents that have vision and morality. Plurality, inclusiveness, tolerance, and other attitude will beautify their life on global village which full of harmony and peace.

Keywords: mudzakarah, munadzarah, mutharahah.

Pendahuluan

Iaman berkembang dengan pesat. Peradaban manusia semakin modern. Dinamika sosial ditandai dengan perubahan pola pikir konvensional ke arah paradigma baru. Mode, life style klasik berkembang dan berubah menjadi life style metropolis, seiring dengan perkembangan jaman.

Ada dampak yang paradok dari perkembangan tersebut, yakni positif dan negatif. Dampak positif perubahan dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dekatnya jarak dunia yang dapat dijangkau dengan alat transportasi dan komunikasi modern, dan lain sebagainya. Namun, dampak negatif dari perubahan tersebut pun sulit dibendung. Pola pemikiran yang serba rasionalis, agresif, dan empiris akan menjebak manusia dalam kehampaan (nihilis) dan sekuler, bahkan atheis. Efek negatif dari modernitas juga akan mendehumanisasi (objektivasi) manusia, yang ditandai dengan agresivitas (tindak kriminal baik personal maupun kolektif), loneliness (privatisasi), dan spiritual alienation.1

Baca artikel lengkap: Atmosfir Akademis dan Nilai Estetik Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Add comment April 3, 2008

Bai’at dan Legitimasi Publik Kepemimpinan Khalifah

Oleh: Fauzi

Abstract:

The election processes of al-Khulafa’ al-Rasyidun maintained by placing forward discussion principle, even entangle the public participation. Bai’at-that always accompany the al-Khulafa’ al-Rasyidun election-have meaning that between the ruler and the ruled bound by social contract, so that enable reciprocal communications between them. Bai’at as locus for realization of social contract between mandate giver (umat) and mandate receiver (khalifah), giving better possibility to ruler (khalifah) to have strong legitimation, so that power can be run effectively. With bai’at, people is not a weak party so that power treat it arbitrarily, otherwise they have strategic role and position to propose criticism and control to governance process.

Keywords: Bai’at, Election, al-Khulafa’ al-Rasyidun, Khalifah, Public Legitimation, Political Ethics.

Pendahuluan

Diskursus mengenai khilafah atau imamah (lebih khusus suksesi kepemimpinan pasca Nabi) sebenarnya telah ada semenjak Nabi Muhammad SAW masih hidup.1 Hal ini setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa sebenarnya mereka (para sahabat) telah menyadari betapa pentingnya kepemimpinan umat pasca Nabi. Akan tetapi, diskursus ini mengemuka menjadi perdebatan publik dimulai semenjak Rasulullah Muhammad wafat. Hal ini karena baik al-Qur’an2 maupun Rasul sendiri tidak memberikan acuan tekstual tentang figur, format, bentuk dan sistem suksesi kepemimpinan yang harus dijalankan oleh umat Islam untuk memilih pemimpin pasca Nabi. Sementara kebutuhan akan figur pengganti untuk memelihara agama dan melanjutkan roda pemerintahan (memegang kekuasaan politik)3 bagi suatu komunitas yang telah terikat secara politik berupa negara sangat dibutuhkan.

Ketiadaan acuan tekstual bagi proses suksesi itu, berpeluang besar untuk terjadinya perdebatan; bahkan menurut al-Syahrastany, perbedaan tersebut dapat mengarah kepada terjadinya konflik di antara sesama umat Islam.4

Baca artikel lengkap: Bai’at dan Legitimasi Publik Kepemimpinan Khalifah

Add comment April 3, 2008

Konsep Tauhid dalam Perspektif Syaikh Nafis al-Banjari

Oleh: Atabik

Abstract:

Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari is an Indonesian eminent tasawuf thinker. His tauhid conceptions contain sufistic nuance, different with kalam nuance from folk of mutakallimin. This thought represents important contribution to Islam science discourse. His work, al-Durr al-Nafis (Beautiful Pearl) containing four main theme: wahdat al-af’al (unity of deed), wahdat asma (unity of name), wahdat sifat (unity of attribute), and wahdat dzat (unity of essence). From our studies, his views about tauhid in sufistic nuance remain in syahadah’s (testimonial) framework. Hence, he remains stick on the wahdat al-syuhud idea, contrasted with wahdat al-wujud.

Keyword: Nafis al-Banjari, tauhid, tasawuf, wahdat al-wujud, wahdat al-syuhud.

Pendahuluan

Sejarah perkembangan pemikiran Islam di Nusantara mencatat banyak pemikir dalam berbagai bidang ilmu, termasuk di bidang tasawuf. Perbincangan tentang konsep-konsep di dalam tasawuf sesungguhnya berpangkal pada perbincangan tentang konsep tauhid, yang secara literal berarti mengesakan Tuhan. Dalam perspektif Abd al-Haq Anshari, konsep tauhid dalam kepustakaan sufi memiliki makna lebih dari sekadar makna dasar di atas. Tauhid memiliki empat makna yang berbeda yakni: pertama, mengimani dan meyakini keesaan Tuhan, kedua, disiplin kehidupan lahir dan batin berdasarkan kepercayaan tersebut, ketiga, pengalaman dalam persatuan dan penyatuan dengan Tuhan, dan keempat, teosofi atau filosofi tentang kenyataan yang bertolak dari pengalaman kultural.1 Salah satu dari empat makna tauhid di atas, dielaborasi lebih jauh oleh seorang sufi Nusantara yakni Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari dalam karyanya al-Durr al-Nafis.

Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari adalah satu di antara nama besar pemikir tasawuf Nusantara. Dia adalah orang kedua yang sangat berpengaruh di Kalimantan setelah Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812). Jika Muhammad Arsyad al-Banjari lebih dikenal sebagai ahli fiqih, maka Muhammad Nafis al-Banjari lebih dikenal sebagai ahli tasawuf. Karya Nafis al-Banjari yang berjudul al-Durr al-Nafis merupakan satu kontribusi yang cukup berarti bagi khasanah intelektual Islam di Nusantara.2

Baca artikel lengkap: Konsep Tauhid dalam Perspektif Syaikh Nafis al-Banjari

Add comment April 3, 2008

The Art of Memory dan Estetika Pembelajaran

Oleh: Suwito N.S.

Abstract:

Joyful, delighted and interactive learning is longed by every student. Beside, interactive learning model make those students are more free to enhancing their potencies. Through years, education expertises thought, researched, and tried to found patterns and learning methods that suitable for learning and teaching activities. Commonly, foreign language is a bogey for students. It loads for teachers. The art of memory, mnemonic, and method of loci are alternative techniques for Arabic Language learning. Earring formula, watch formula, as a mnemonic technique and type of mnemonic devices (especially by associate word with physical word) and rhyme make more interactive in learning processes.

Keywords: rhyme, acronym, acrostic, mnemonic, memory.

Pendahuluan

Kurikulum terbaru yakni Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menuntut semua pihak (terutama guru dan siswa) mengarahkan seluruh daya untuk mencapai standar kemampuan tertentu. Dalam KBK, meskipun main goal-nya adalah pencapaian kemampuan (getting competences), pembelajaran dalam sistem ini juga dituntut untuk tidak sekali-kali mengesampingkan “nilai” interaksi antara guru dan siswa. Hal ini perlu digarisbawahi karena “upaya keras” pendidik yang “berlebihan” disebabkan target KBK, dan karena beban berat lainnya dapat menjerumuskan, bahkan “membutakan” guru, yang akhirnya guru seolah menjadi “robot” KBK, fungsi dan perannya lebih dari sekadar fasilitator dapat bergeser menjadi “diktator” KBK.

Baca artikel lengkap: The Art of Memory dan Estetika Pembelajaran

Add comment April 3, 2008

Pendekatan Aesthetic Linguistics dalam Memahami Teks Hadis “Allahumma Ahyini Miskinan”

Oleh: Suraji

Abstract:

In a certain hadis reported that Rasulullah SAW once prays ‘Allahumma ahyini miskinan wa amitni miskinan wa ahsyurni fi zumrat al-masakin (O Allah, lived my life me as an impecunious, die me in a state of impecunious and awaken I later in impecunious people group). The impecunious word in the text hadis, aesthetic-linguistically comprehended by some Moslem scholar have meaning restful situation or attitude, pacification, tawadlu’, khusyu’, full of submission and surrender to Allah, and not a faqir (lack) or wealthy poorness meaning. Thereby, hence prayer practiced or taught by Prophet SAW didn’t oppose Prophet’s hadis that expressing asking protection to Allah from fakir or wealthy poorness. With the understanding as above, hence impecunious meaning content in the prayer in harmony with esthetics values taught by Islam, so that human being try to realize and reach for life which is full of pacification and bliss in this world and hereafter.

Keywords: Text, Hadis, prayer, impecunious.

Pendahuluan

Pada dasarnya tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan kaya atau miskin. Kedua hal itu baru timbul kemudian, melalui rentetan sebab-musabab yang menjadi ketentuan Allah. Namun, perbedaan kaya dan miskin itu sendiri tidak terlepas dari sunnatullah. Allah memberi anugerah yang berbeda-beda kepada individu-individu, yaitu sebagian dilebihkan atas sebagian yang lain. Atas dasar adanya perbedaan-perbedaan kemampuan pada individu-individu itulah Islam memerintahkan agar dapat diselenggarakan hidup tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan (Q.S. 5: 2).

Baca artikel lengkap: Pendekatan Aesthetic Linguistics dalam Memahami Teks Hadis

Add comment April 3, 2008

Estetika, Masjid, dan Dakwah

Oleh: Sulkhan Chakim

Abstract:

Mosque as missionary institution never had been separated with society. Even great and active effort often maintained by society members to build mosque at their neighborhood. But the reality is mosque sometimes far from ummat (society) reality of life, especially when reviewed from historical context at early period of Islam. The root word mosque (masjid) has meaning to bow and obedient, hence mosque and observance represent one indivisible unity. In other word, religious deed as the spirit, while mosque is its bodily form. This is require fundament and at the same time solution at spirituality, behavior, or ethical aspect. Mission become the part of esthetics study, because mosque as agent of social change to guide people to become the khaira ummat. Tauhid’s message—that contain theocentric-humanism—give a believer special motivation or awareness to do a good deed for social advantage of others.

Keywords: Mosque, Spirituality, Ethics/behavior, and Dakwah.

Pendahuluan

Menurut pandangan masyarakat Islam, masjid adalah institusi dakwah yang suci dan memiliki nilai sakral. Dari nilai dan makna ini (suci dan sakral), selanjutnya mengkonstruk “paradigma” dan pola pikir sebagian besar masyarakat yang menilai masjid sebagai tempat keramat. Paradigma tersebut terkonstruk karena sejak jaman dahulu hampir semua masjid hanya digunakan untuk kegiatan shalat dan kegiatan ritual keagamaan. Hal lain yang mendukung terciptanya paradigma tersebut adalah kurang atau tidak terkelolanya kegiatan masjid yang mengarah pada persoalan sosial kemasyarakat. Sangat ironis, ketika masjid pada saat ini justru jauh dari realitas kehidupan umat atau masyarakat.

Masjid sebagai institusi dakwah seharusnya tidak pernah “jauh”, apalagi “terpisah” dengan masyarakat. Jerih-payah masyarakat untuk membangun masjid memiliki makna bahwa ada keinginan masyarakat dekat dengan masjid. Dengan kata lain, kebersamaan antaranggota masyarakat dalam membangun masjid menunjukkan adanya komitmen untuk meletakkan dasar tauhid sebagai landasan hubungan bermasyarakat. Berangkat dari persoalan tersebut, tulisan ini mengkaji estetika masjid yang memfokuskan pada hubungan antara aspek spiritualitas, akhlak, dan dakwah.

Baca artikel lengkap: Estetika, Masjid, dan Dakwah

Add comment April 3, 2008

Perempuan sebagai Manifestasi Nilai Estetik Islam

Oleh: Khusnusl Khotimah

Abstract:

Islamic aesthetic represent the Islamic study which still relevant, with the goal is to express the highest Reality that is God. God as The Most Beautiful (al-Sifah al-Jamaliyyah) disclosing Himself in cosmos with the form of an ideal woman. It’s because God wish to be recognized by human being. Woman which in one side often being misunderstood as entity that instigating evil deed, actually have lofty station, even as symbol of God’s Beautiful reality, which can be seen on mystical works. Woman have feminine elements that also owned by God. Hence, Ibnu ‘Arabi argue that woman is God’s altar or aesthetic medium, because God is easier to acknowledge through Woman.

Keywords: Islamic Esthetics, Spiritual, Woman.

Pendahuluan

Estetika di dalam Islam sebagaimana diungkapkan oleh Seyyed Hossein Nasr adalah realitas surgawi yang turun ke bumi yang merupakan kristalisasi ruh dari bentuk ajaran Islam dalam selubung kesempurnaan yang bukan berasal dari dunia perubahan dan kematian. Estetika Islam lebih bernilai daripada seluruh sebab dan tujuan material maupun sosial yang altarnya telah dan terus dikorbankan dan dihancurkan hingga kini.1 Ia dijadikan wasilah dalam rangka menuju sang Maha Jamal.

Demikian juga yang diungkapkan oleh Ismail Raji al-Faruqi, seni Islam harus dapat mengungkap ketauhidan Allah,2 melalui medium dan motif apapun harus dapat menegaskan kebenaran estetis bahwa tak ada Tuhan melainkan Allah, bahwa Allah bukan ciptaan. Seni Islam juga harus mempunyai tujuan ke arah spiritual Islam karena dalam estetika Islam mempunyai landasan pengetahuan yang diilhami oleh nilai spiritual yang oleh para tokoh tradisional seni Islam disebut dengan hikmah atau kearifan.3

Kesadaran beragama orang Islam pada dasarnya adalah kesadaran akan keesaan Tuhan. Semangat ilmiah tidak bertentangan dengan religius karena ia merupakan bagian yang terpadu dari keesaan Tuhan. Kesadaran ini yang akan meneguhkan kebenaran bahwa Tuhan adalah satu dalam esensi-Nya, dalam norma-norma, sifat-sifat dan perbuatan-Nya.

Baca artikel lengkap: Perempuan sebagai Manifestasi Nilai Estetik Islam

Add comment April 3, 2008

Formulasi Konsep Estetika Seni Islam dalam Perspektif Ismail Raji al-Faruqi

Oleh: Elya Munfarida

Abstract:

In Islamic thought treasures, concept of Islamic esthetics not yet got serious attention from Islamic intellectuals. Its Implication, Islam hadn’t had well established esthetics concept that can be applied on development of Islamic art. Ismail Raji al-Faruqi is one of Islamic intellectuals which popularize the idea of science Islamization, that having great concern to this problem. According to him, Islamic art represent historical product constituted by view of Islamic world stemming from al-Qur’an. Hence, Islamic art also called ‘Koran art’, namely art influenced by aesthetic expression of al-Qur’an, whether in form or its contents. There are three level 1) al-Qur’an as tauhid’s instruction or transcend 2) al-Qur’an as artistic model, and 3) al-Qur’an as artistic icon. This al-Faruqi’s formulation becomes early step that very significant to reformulate conception of the more comprehensive Islamic esthetics.

Keywords: Islamic esthetics, Islamic art, Ismail Raji al-Faruqi.

Pendahuluan

Dalam kajian keislaman, kita selalu menemui sebuah jalan buntu ketika memasuki wilayah kajian seni Islam. Kebuntuan tersebut muncul dari ambivalensi sikap kaum muslim sendiri dalam menangani persoalan dunia seni. Di satu sisi, sebagian besar orang muslim dapat dipastikan akan mengatakan bahwa Islam sama sekali tidak bertentangan apalagi melarang seni. Dengan penuh semangat mereka akan mengemukakan sejumlah argumen, baik naqliyah, maupun aqliyah, untuk memperkuat pandangan mereka.

Baca artikel lengkap : Formulasi Konsep Estetika Seni Islam

Add comment April 3, 2008

Meretas Bangunan Estetika Perpuisian Abdul Wachid B.S. dalam Tafsir Hermeneutika

Oleh: Heru Kurniawan

Abstract:

Esthetics have important role in poem, because it stand parallel with meaning, as body or container that contain meaning, idea, thought, and message. With hermeneutic interpretation, we can interpret the meaning of esthetics symbols of Abdul Wachid B.S’s poetry. From his several works, by adequate philosophic-religiosity understanding, we can find that its poem talk about transcendental love through two esthetics feature: first, based on reality awareness, and second, transcendental love which have based on love and longing to The Most Beautiful (Allah). Hence, we can obtain meaning through the real symbolism that able to brighten reader’s heart.

Keywords: poem’s esthetics, hermeneutic, symbol, profane-transcendent, feminine image.

Pengantar

Estetika dalam karya sastra (puisi) begitu penting ke-beradaannya karena hakikat karya sastra merupakan karya imajinatif yang bermediakan bahasa dan mempunyai nilai estetika yang dominan.1 Dalam hal ini, estetika dalam karya sastra menjadi suatu elemen penting yang eksistensinya berperan dalam menentukan kiblat baiknya sebuah karya sastra. Estetika dalam karya sastra selalu berdiri sejajar dengan etika. Dalam diskursus kesusastraan, etika dapat ditafsirkan sebagai nilai moral, sedangkan estetika sebagai nilai keindahan dalam karya sastra.2

Dalam sajak, estetika menjadi semakin penting peranannya karena sajak adalah genre sastra yang mengemas peristiwa dalam diksi yang padat dan secara total memberdayakan dengan penuh aspek estetikanya. Estetika dalam sajak berdiri sejajar dengan makna. Tidak mengherankan bila kesempurnaan sajak sangat ditentukan oleh bangunan estetikanya. Pentingnya peran estetika dalam sajak ini karena secara umum merupakan makna dari nilai-nilai keindahan dan keagungan pemikiran yang terdapat di dalam sajak.

Baca artikel lengkap: Meretas Bangunan Estetika Perpuisian

Add comment April 3, 2008

Previous Posts


Pages

Categories

Recent Posts

Top Posts

Top Clicks

Blogroll

Link

 

November 2009
M T W T F S S
« Apr    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Recent Comments

yunus on Sejarah Perkembangan Pesa…
ferdi10790 on Javanese Santri Islam
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
Nashih on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…

RSS Journal of Islamic Law and Culture

Archives

Meta

Blog Stats

Feeds

Spam Blocked