Posts filed under 'Vol. 4 No. 1 Jan-Jul 2006'
Dakwah dengan Pendekatan Komunikasi Persuasif
Oleh: Uus Uswatusolihah
Abstract:
The paradox realities between the splendor of islamic preaching recently and the spread of evils indicate that the implementation of islamic preaching is separated from the social realities. Among of the efforts to overcome to this problem is “re-reading” the qur’anic doctrines of Islamic Preaching (dakwah), and integrating them with social sciences especially science of communication. Among of the results of that combining is “persuasive preaching”, that is dakwah with persuasive communication approach. Persuasive preaching is preaching based on the principles of effective communication. Effective communication is communication based on audiences’ (mad’u) needs and gratifications whose different frame of references and field of experiences.
Keywords: Hikmah, Dakwah, Persuasive communication.
Pendahuluan
Salah satu fenomena yang saat ini bisa dinikmati sehari-hari adalah merebaknya aktivitas dakwah. Aktivitas dakwah kini tidak lagi hanya dapat dijumpai di tempat-tempat “konvensional “ seperti, masjid, pesantren, dan majlis taklim, tetapi dapat pula dijumpai di hotel, rumah sakit, perusahaan, radio, televisi bahkan internet. Namun, fenomena paradoks pun sering kita jumpai dan tak kalah menyentaknya, seperti maraknya tindakan kekerasan, kerusuhan sosial, pornoaksi, pornografi, korupsi, dan sebagainya.
Fenomena ini mengindikasikan masih teralienasinya dakwah dari realitas sosial masyarakat di sekitarnya. Aktivitas dakwah —sebagai proses komunikasi penyampaian ajaran ideal Islam1— selama ini tidak mempunyai kekuasaan untuk membawa masyarakat kepada perubahan ke arah yang lebih baik. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya, salah satunya karena dakwah yang selama ini dilakukan cenderung kering, impersonal, dan hanya bersifat informatif belaka, belum menggunakan teknik-teknik komunikasi yang efektif.
Situasi ini merupakan cermin wajah dakwah yang belum berpijak di atas realitas sosial yang ada. Padahal dakwah dan realitas sosial memiliki hubungan interdependensi yang sangat kuat, terkait berkelindan. Paling tidak ada dua hal penting yang dapat diungkapkan dari hubungan tersebut, yaitu: pertama, realitas sosial merupakan alat ukur keberhasilan dakwah yang sekaligus menjadi cermin sosial dalam merumuskan agenda dakwah pada tahap berikutnya. Kedua, aktivitas dakwah sendiri pada hakikatnya merupakan pilihan strategis dalam membentuk arah perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Kemampuan membaca realitas sosial ini merupakan langkah awal yang sangat efektif untuk mengembangkan dakwah Islam.
Baca artikel lengkap: 11-dakwah-dengan-pendekatan-komunikasi-persuasif
1 comment April 7, 2008
Menelusuri Akar Pencitraan Perempuan dalam Islam
Oleh: Sumiarti
Abstract:
Theological assumptions about woman creation and role in human’s downfall to earth have been believed as religious (Islamic) teaching. Then, this assumption enters the religious interpretation region so that believed as Allah’s teaching with absolute truth. Assumption which have been believed as religious teaching that contains bias and inequality between men and woman later; then become justification tools which powerful enough to construct the nature, role, and behavior of ideal woman and men. Religious community will always refer the teaching to assess the social practice of men and woman, whether according or not with that teaching. Here religion often misunderstood, i.e. religion as divine revelation or Islam as individual interpretation to that divine revelation.
Keywords: women’s image, women’s role, ideal man men and women, women’s position in Islam.
Pendahuluan
Berkembangnya pembicaraan tentang isu perempuan dan gender di kalangan Islam merupakan babak baru dalam khasanah intelektualisme Islam yang dianggap sudah final. Formulasi mengenai relasi laki-laki dan perempuan pada umumnya, dan pencitraan bagi perempuan pada khususnya dianggap merupakan cermin dari “kehendak” Tuhan atau “kodrat” dari Tuhan. Oleh karena itu, perbincangan mengenai isu-isu perempuan di dalam Islam dianggap sudah selesai, tidak memerlukan interpretasi dan formulasi baru. Hal ini mengundang banyak pertanyaan setelah isu-isu mengenai kesetaraan gender dan posisi perempuan direspon secara positif dan negatif oleh masyarakat. Isu kesetaraan laki-laki dan perempuan, sudah menjadi bagian dari isu Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi yang dianggap sebagai standar global yang harus dilaksanakan oleh semua negara di dunia. Di Indonesia, isu ini sangat marak, khususnya setelah tahun 90-an yang ditandai dengan maraknya diskusi, seminar, advokasi, penerbitan, dan sosialisasi yang gencar melalui lembaga swadaya masyarakat (Non-Government Organization) yang mengurusi masalah perempuan. Sosialisasi kesetaraan dan keadilan gender merambah ke segala lapisan masyarakat, tak terkecuali ke kalangan Islam.
Islam sebagai agama yang diyakini rahmat li al-’alamin kemudian mendapatkan sorotan. Sebagian kajian menyimpulkan bahwa Islam adalah agama misoginis jika dilihat dari formulasi ajaran-ajarannya yang mengandung bias laki-laki, berpihak kepada laki-laki. Mengingat persoalan ini penting, maka akan sangat menarik menelusuri tentang proses panjang formulasi mengenai pencitraan Islam terhadap perempuan dan relasi gender secara lebih seksama. Penelusuran terhadap akar pandangan akan dimulai dari kajian teologis mengenai posisi perempuan dan Islam, kemudian contoh dan wujud nyata formulasi pencitraan perempuan dalam fiqh, lalu dianalisis.
Baca artikel lengkap: 10-menelusuri-akar-pencitraan-perempuan-dalam-islam
Add comment April 7, 2008
Javanese Santri Islam
Oleh: Gary Dean
Abstrak:
Islam di Jawa sangat beraneka-ragam, yang oleh Gertz dibagi secara vertikal menjadi abangan dan santri. Sedangkan secara horisontal, bisa dibagi menjadi dimensi tradisionalis vs modernis. Awalnya istilah santri adalah pelajar atau pengikut sekolah Islam yang disebut pesantren. Namun, kemudian istilah ini digunakan untuk menamai kelas dalam masyarakat Jawa yang berislam kuat, yang dioposisikan dengan abangan dan priyayi. Dengan adanya pengaruh budaya lokal, timbul pula percabangan dalam Islam di Jawa: Islam Jawa yang bersifat sinkretik, dan Islam modernis yang puritan. Lalu apa yang membedakan santri Jawa dari masyarakat yang lain? Pada dasarnya adalah identitas. Santri secara sadar mengidentifikasikan diri mereka sebagai Muslim, dan berusaha sebisa mungkin menjalani hidup sesuai dengan pemahaman mereka sendiri terhadap Islam, entah itu berupa Islam tradisional yang sinkretik, Islam kaum modernis yang puritan, atau campuran keduanya.
Kata Kunci: santri, pesantren, Islam Jawa, Islam tradisional, Islam modernis, ortodoks.
The Western aversion and distrust towards Islam runs deep, in contrast to how ‘friendlier’ religions such as Buddhism, Confucianism and Hinduism are often considered.1 Even Westerners better informed about Islam have their concerns, so it is probably not simply a case of a ‘misunderstood’ religion. Many see Islam as an inherently undemocratic religion, placing restrictions on, for example, women’s rights or freedom of religion.2 To assert that understanding leads to tolerance is not necessarily true. Islam confronts many of the foundations of Western liberal-democratic culture, and by its very nature does not lend itself to be co-opted into the pluralistic, ‘tolerant’ frameworks of liberal Western societies.
Islam in Java is extremely diverse in the manner of its expression, and highly variable in terms of depth of commitment to the religion. The oft-quoted figure that 90% of the Javanese population embraces Islam is extremely misleading, and in fact, wrong. It is perhaps true that 90% of the Javanese population hold an identity card (KTP) stating that Islam is their religion. However given the lack of religious freedom in Indonesia,3 the life-threatening danger of not professing a government-approved religion, and pressure from within the Ministry of Religion and Islamists to inflate the number of Muslims in Indonesia for political reasons, this 90% figure should be summarily dismissed as an untruth.
Muslims in Java are usually divided vertically according to their level of identification with Islam; ie, Geertz’s abangan/santri dichotomy, with the santri much more closely identifying themselves as Muslim. In addition to this, there is also a horizontal traditionalist/modernist dimension within Javanese Islam.
Baca artikel lengkap: 8-javanese-santri-islam
1 comment April 7, 2008
Socio-cultural Strategies of Pesantren to Construct Society
By/ Oleh: Suparjo
Abstrak:
Paper ini bermaksud untuk menganalisis bagaimana pesantren sebagai basis pendidikan Islam memainkan peranan penting dalam mengkonstruk masyarakat. Hal ini meniscayakan pengkajian tentang bagaimana keterlibatan pesantren dalam kehidupan sosial. Secara khusus, paper ini menganalisis strategi yang diambil pesantren dalam menghadapi budaya lokal dan penguasa formal. Sudut pandang yang dipakai adalah sosio-historis. Hasilnya, pesantren sebagai lanjutan dari sistem pendidikan Islam walisongo mempunyai sumbangan besar dalam mengembangkan masyarakat Indonesia yang beragam budayanya. Secara sosio-kultural, pesantren berhasil mengakulturasikan Islam dengan budaya lokal. Pesantren secara sosio-politik juga memainkan peranan penting dalam membangun masyarakat Indonesia sejak awal kedatangan Islam di Indonesia hingga sekarang.
Kata Kunci: pesantren, walisongo, akulturasi, penguasa formal, dan konstruksi sosial.
Introduction
Pesantren as a system of Islamic education that exist until nowadays, according to Abdurrahman Mas’ud, can be regarded as a continuation of walisongo’s pesantrens.1 Since walisongo2 were the first people promoting Islam and pesantren in Indonesia, therefore, to study how far pesantrens contribute in constructing society reveals us to study how walisongo did so. It also reveals us to study their strategies to do so.
Walisongo successfully built pesantrens as the bases to rule people and construct them within pluralistic culture and formal authority. Their success was just because they applied genius strategy to adopt local culture and they were moderately involved within formal authorities. They adapted Islam within local tradition and culture until people accepted Islamic doctrines without any compulsion. They also collaborated with local governments to effectively rule people under regulations affected by Islamic doctrines. Even their relation to some Islamic kingdoms, i.e. Demak and Banten kingdoms, was very closely linked because they themselves were promoters, supporters, and leaders of them.
Baca artikel lengkap: 7-socio-cultural-strategies-of-pesantren-to-construct-society
Add comment April 7, 2008
Pondok Pesantren dan Pemberdayaan Ekonomi
Oleh: Akhmad Faozan
Abstract:
Since the failure of our economy system in which provitable for some competable group, therefore Indonesian economy is expected to be carried out by some competence public institutions that have been historically survived. These institutions are based on public and middle class industry such as survived home industry, Islamic boarding schools, in fact, are potential institutions to grow up into a kind of public economy. Therefore it needs accurate analizing of carry out the economy empowering. The last target of economic empowering of Islamic boarding schools is their own independence. As the time goes by, Islamic boarding schools are always labelled as aid proposal agent. They would be relieved from that problem while their economic condition is getting stronger.
Keywords: Islamic boarding, empowering, economy, and independence.
Pendahuluan
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia yang sudah tumbuh dan berkembang beberapa abad yang lalu. Kata pesantren berasal dari kata “santri”, yang diberi awalan pe dan akhiran an menjadi pesantrian (pesantren) berarti tempat tinggal para santri, sedangkan santri adalah orang yang menuntut ilmu agama Islam. Pesantren di Jawa dan Madura sering disebut dengan Pondok. Sementara itu, di Aceh corak pendidikan seperti itu disebut dengan meunasah, dan di Sumatera Barat disebut dengan surau.
Pondok pesantren (Ponpes) dalam bacaan teknis merupakan suatu tempat yang dihuni oleh para santri. Pernyataan ini menunjukkan makna pentingnya ciri-ciri Ponpes sebagai sebuah lingkungan pendidikan integral. Sistem pendidikan Ponpes sebetulnya sama dengan sistem yang dipergunakan Akademi Militer, yakni dicirikan dengan adanya sebuah bangunan beranda, yang di situ seseorang dapat mengambil pengalaman secara integral.
Baca artikel lengkap: 6-pondok-pesantren-dan-pemberdayaan-ekonomi
3 comments April 7, 2008
Zikir Suatu Tradisi Pesantren Menuju Terapeutik Depresif
Oleh: Zainal Abidin
Abstract:
Zikir activity that previously assume purely as religious service activity that affecting solely on increasing the quality of afterworld life, in the reality “zikir deed” as one of religious practice could become one important element in “holistic therapy” practice in medical world today. This aspect of religious therapy especially focused to all psychological trouble patients.
Keywords: Zikir. Zikir’s tradition in Pesantren. Depression. Depression Manifestation. The Depression impact. Psychosomatic. Neurosis. Holistic Therapy.
Pendahuluan
Meskipun awal mula pondok pesantren itu dibangun dan ditumbuhkembangkan oleh kaum sufi, bukan berarti bahwa setiap pesantren yang ada saat ini menjadi pusat gerakan tasawuf karena lebih dominan sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam. Namun, diakui bahwa memang ada sebagian kecil pondok pesantren yang mengkhususkan diri mengembangkan bidang tasawuf. Itu pun menurut Nurcholish Madjid —masih terbatas pada segi-segi praktisnya (tarekat) dan aspek inilah yang lebih dikenal dan kental diamalkan oleh bagian terbesar dari pengikut awam di masyarakat.
Pondok pesantren yang beraliran tarekat ini biasanya dipimpin oleh seorang Kiai yang selalu memimpin para santrinya atau jemaahnya dalam mengamalkan amalan-amalan tarekatnya, terutama “amalan zikir” sebagai amalan utama bagi jamaahnya. Dalam lingkungan tradisionalnya “amalan zikir” telah menjadi suatu ciri khas, kebiasaan dan tradisi rutin dalam rangka meningkatkan kualitas kedekatan dan ketaqwaan diri serta mencari keridhaan Allah SWT dan membentengi diri dari pengaruh kehidupan modern yang dipandang dapat merusak tata kehidupan umat Islam.
Wajarlah bila dunia modern memandang bahwa “tradisi berzikir” yang dilakukan oleh kaum tarekat tersebut “adalah sikap dan perilaku keagamaan yang kolot dan kuno, orang-orang modern selalu memandang sebelah mata terhadap tradisi berzikir tersebut.”
Baca artikel lengkap: 5-zikir-suatu-tradisi-pesantren-menuju-terapeutik-depresif
1 comment April 7, 2008
Kepatuhan dan Kemandirian Santri
Oleh: Hartono
Abstract:
Relations between obedience and adolescence santri autonomy, emotional autonomy, behavioral autonomy, and value autonomy, showed relationship significant in substansial degree. Most of santri has high level obedience (for attitude aspect showed high level, but behaviour aspect showed medium level). Most of santri has low level autonomy that emotional autonomy has highes and behaviour autonomy has least percentage.
Keywords: obedience and autonomy.
Pendahuluan
Pesantren merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang telah ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyukseskan pembangunan nasional. Sejak era pra-kemerdekaan, pesantren telah menjadi pusat pembinaan pemuda untuk ikut berjuang melawan penjajahan. Hingga kini, berdasarkan data Departemen Agama Republik Indonesia, jumlah pesantren di Indonesia mencapai 7000 buah dengan jumlah santri sekitar satu setengah juta. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah, jika pesantren mampu menerjemahkan dan menerapkan prinsip pemikiran, “al-muhafazhah ‘ala ‘al-qadim ash-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” (memelihara nilai-nilai budaya klasik yang baik, dan mengambil nilai-nilai budaya baru yang dianggap lebih bermanfaat) secara tepat dan benar.
Saat ini, banyak orangtua perkotaan menyekolahkan anak-anaknya ke pesantren karena pendidikan umum telah menjadi bagian standar dari penyesuaian pesantren terhadap modernitas. Pesantren dianggap juga sebagai lembaga pendidikan yang relatif aman bagi anak-anak mereka yang berusia remaja dari pengaruh-pengaruh negatif.1 Orangtua menyadari bahwa mendidik anak usia remaja sangat sulit karena pada dasarnya usia tersebut anak biasanya berani “melawan” orangtuanya, dan anak sangat mudah terkena pengaruh orang lain.2 Oleh karena itu, lembaga pendidikan yang tepat adalah lembaga yang dapat melindungi anak-anak mereka dari pengaruh-pengaruh negatif dan yang menawarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan agama.
Baca artikel lengkap: 4-kepatuhan-dan-kemandirian-santri
Add comment April 7, 2008
Proses Identifikasi Santri Cilik di Pondok Pesantren
Oleh: Ida Novianti
Abstract:
The identification process is undoubtedly happened in each human being. This process usually take place at childhood by imitating or taking people model closest which coexist the child, in this case parents. For children who learn in pesantren (Islamic boarding) since early age so that reside separated from their parents, still have the possibility to be able to identify with their parents if a good and stable communication existed. Besides, Kiai and ustad as child counselors and also friend coeval partake to assist the child’s identification process properly.
Keywords: identification, Islamic Boarding, parent, teacher.
Pendahuluan
Anak merupakan generasi penerus yang perlu mendapatkan perhatian secara serius karena perkembangan manusia di masa yang akan datang pada dasarnya dimulai dari masa anak-anak. Biasanya seorang anak tumbuh dan berkembang dalam asuhan kedua orangtuanya. Setiap anak lahir dengan pembawaan masing-masing yang kemudian orangtua dan lingkungannya mengembangkan pembawaan tersebut melalui pendidikan dan pembentukan.
Awalnya orangtua mendidik sendiri anaknya sampai tiba waktunya bagi anak untuk memasuki jenjang pendidikan formal. Ada beragam pilihan pendidikan formal yang bisa diakses orangtua seperti sekolah umum, madrasah atau pondok pesantren. Pada pendidikan dasar biasanya anak mengikuti pendidikan pada jam-jam tertentu untuk kemudian pulang ke rumah orangtuanya sehingga di luar jam-jam sekolah anak masih bisa bertemu orangtua dan keluarganya. Ini berlainan dengan pola pendidikan di pondok pesantren yang memiliki kekhususan tersendiri, di mana anak ditempatkan dalam sebuah asrama di bawah bimbingan Kiai atau Ustad yang bertanggung-jawab atas keseharian dan pendidikannya.
Baca artikel lengkap: 3-proses-identifikasi-santri-cilik-di-pondok-pesantren
Add comment April 7, 2008
Inovasi Kurikulum Pesantren
Oleh: Dwi Priyanto
Abstract:
Many people assess that education system in Indonesia until this day lack of capability-if not fail- to realize the target of national educational development, which is developing Indonesian holistic human being. Increased student fights, drug consumption and circulation, lack of child’s respect to teacher and parent, the emerging of tribal egoism that lead to separatism, moral lowliness of all government body are indications supporting assessment above. These phenomenons show the existence of “something wrong” in our education practice, which is lack of attention to moral aspect. This article will be investigating pesantren’s educational model, which prove its efficacy in producing pious and noble santri (student). We’ll find several aspect of that potency, without denying its insufficiencys. That excellence expected can improve the weakness of conventional education model applied officially by government in national scale. Hence by striving curriculum innovation in pesantren’s education, we hope pesantren can come up as model of alternative education.
Keywords: Pesantren, curriculum innovation, alternative education, modernity challenge.
Pendahuluan
Salah satu komponen penting pada lembaga pendidikan formal yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan isi pengajaran, mengarahkan proses mekanisme pendidikan, tolok-ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan, adalah kurikulum.
Namun demikian, kurikulum seringkali tidak mampu mengikuti kecepatan laju perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, pengembangan dan pembenahan kurikulum harus senantiasa dilakukan secara berkesinambungan.
Dalam konteks pendidikan di pesantren, menurut Nurcholish Madjid, istilah kurikulum tidak dikenal di dunia pesantren, terutama masa prakemerdekaan, walaupun sebenarnya materi pendidikan sudah ada dan keterampilan itu ada dan diajarkan di pesantren. Kebanyakan pesantren tidak merumuskan dasar dan tujuan pesantren secara eksplisit dalam bentuk kurikulum. Tujuan pendidikan pesantren ditentukan oleh kebijakan Kiai, sesuai dengan perkembangan pesantren tersebut.
Baca artikel lengkap: 2-inovasi-kurikulum-pesantren
3 comments April 7, 2008
Sejarah Perkembangan Pesantren
Oleh: Nawawi
Abstract:
Pesantren represent “father” of Islamic education in Indonesia. Pesantren borne by the awareness of dakwah Islamiyah (disseminating Islam) obligation, or propagate and develop Islamic teaching, and at the same time yielding the cadre of Moslem scholar or da’i. There are three characteristics as main bases pesantren’s culture. First, traditionalism, namely that pesantren salaf/traditional maintain the classic books as core of education. Second, cultural resistance, namely maintain the pesantren culture that exist for centuries and remain to rely on the elementary teaching of Islam. Third, religious education, namely pesantren constituted, activated, and instructed by worldview which coming from the Islam teaching. This basic teaching is intertwines with the social structure or social reality that experienced in everyday life.
Keywords: Pesantren, pesantren’s historical context, Islamic education, curriculum.
Pendahuluan
Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah “tempat belajar para santri”, sedangkan pondok berarti “rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu”. Di samping itu, “pondok” mungkin juga berasal dari bahasa Arab “fanduk” yang berarti “hotel atau asrama”. Ada beberapa istilah yang ditemukan dan sering digunakan untuk menunjuk jenis pendidikan Islam tradisional khas Indonesia atau yang lebih terkenal dengan sebutan pesantren. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura, umumnya dipergunakan istilah pesantren atau pondok,1 di Aceh dikenal dengan istilah dayah atau rangkung atau meunasah, sedangkan di Minangkabau disebut surau.
Adapun pengertian secara terminologi, dapat dikemukakan beberapa pendapat yang mengarah pada definisi pesantren. Abdurrahman Wahid, memaknai pesantren secara teknis, a place where santri (student) live, sedangkan Abdurrahman Mas’oed menulis, the word pesantren stems from “santri” which means one who seeks Islamic knowledge. Usually the word pesantren refers to a place where the santri devotes most of his or her time to live in and acquire knowledge. Kata pesantren berasal dari “santri” yang berarti orang yang mencari pengetahuan Islam, yang pada umumnya kata pesantren mengacu pada suatu tempat, di mana santri menghabiskan kebanyakan dari waktunya untuk tinggal dan memperoleh pengetahuan.
Baca artikel lengkap:1-sejarah-dan-perkembangan-pesantren
13 comments April 7, 2008