Posts filed under 'Vol. 5 No. 2 Jul-Dec 2007'
Beyond Trinity and Tawheed: Exploring God Within the Perspective of the Global Theology
Oleh: Suparjo
Abstrak:
Tuhan sebagai dzat yang absolut tidak mungkin dapat digambarkan secara sempurna oleh apapun, siapapun dan dengan cara apapun. Jika Tuhan dapat digambarkan dengan jelas, maka Tuhan menjadi terbatas sebagaimana keterbatasan sistem penggambaran dan makna dari gambaran tentang Tuhan tersebut. Jika seseorang yakin bahwa konsepnya tentang Tuhan sudah benar maka sesungguhnya ia masih jauh dari gambaran tentang Tuhan. Ia baru mampu mencapai pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman tentang Tuhan dalam batas kemanusiaannya. Tulisan ini secara spesifik menjadikan konsep Tahweed dalam tradisi Islam dan Trinitas dalam tradisi Kristen sebagai titik awal untuk memahami konsep teologi Global. Teologi semacam inilah yang mendudukkan seluruh umat manusia dengan berbagai macam latar belakang keagamaan dan keyakinannya sebagai satu-kesatuan keluarga umat Tuhan.
Kata Kunci: tawheed, trinity, global theology, and constructive theology.
Introduction
All religions actually direct to the same God, the Ultimate Reality. Even though each has a specific notion that cannot be simply united one another, there must be a parallel notion. In the case of Christians and Muslims, if both avoid their secondary part of confession, i.e. Jesus for Christians and Muhammad for Muslims, they will find that they share in a faith. Principally, there are many concepts of God but the essence of God has to be one. God is beyond all human concepts of Him.
This paper is based on an assumption that there is a possibility to construct a global theology based on elaborating the essential concept of God among all people of various faiths. In a common language, there must be a possibility to promote and construct an interfaith understanding. In this sense, the system of belief is not a key factor of religious conflict because of its natural diversities. It is easy for one to understand other belief if s/he can differ between cultural and essential aspect of faith. Therefore, whatever conflict occurs, it is always because of political, economic, and other social interests, not really because of faith.
Download artikel lengkap: Klik disini
Add comment April 2, 2008
Puitika Gandrung A. Mustofa Bisri: Tamsil Metafisik yang Berangkat dari Pengalaman Mistik
Oleh: Abdul Wachid B.S.
Abstract:
The special characteristic of A. Mustofa Bisri poetry on Gandrung book is when express his speech “not beautify words”, as he reveal on poem “I aren’t Beautify Words”. But, his “simple poem words” didn’t meaning that his poem has explicit interpretation, because his poem rich of symbols that have relation with religious thought, even Islamic mysticism (tasawuf). Therefore, to reach poem’s inner meaning, reader has to have knowledge about world of thought that became background of poem creation. That world of thought is combination of mystical and aesthetic experience that expressed with metaphysical tamsil (parable).
Keywords: K.H. Mustofa Bisri, Gus Mus, poem, mysticism, symbol, and parable.
Pengantar
Membaca sajak-sajak cinta Gandrung karya A. Mustofa Bisri ini, pembaca akan lekas menemui ciri khasnya. Ciri khas perpuisian A. Mustofa Bisri dalam buku Gandrung ini dalam mengekspresikan bahasanya “tidak memperindah kata-kata”, seperti halnya dia ungkapkan dalam sajak “Aku Tak Akan Memperindah Kata-kata”. Namun, “kesahajaan bahasa sajak” itu tidak berarti kemudian sajaknya jadi gamblang pemaknaannya sebab bagaimanapun puisinya begitu kaya simbol yang memiliki keterkaitan dengan alam pikir religius, bahkan mistisisme Islam (tasawuf). Oleh karenanya, untuk sampai kepada makna batin sajak, pembaca dituntut memiliki wawasan tentang alam pikir yang melatari penciptaan sajaknya. Alam pikir tersebut merupakan perpaduan pengalaman mistik dan pengalaman estetik, yang digambarkan melalui tamsil (perbandingan, perumpamaan) metafisik.
Download artikel lengkap: Klik disini
5 comments April 2, 2008
Menelusuri ‘Realitas’ dalam Media
Oleh: Budi Hermawan
Abstract:
Media and society have close relation and influence each other in the ways that often hard to explain. Therefore, we will aware that language have important role to shape our understanding about ‘reality’. This article discusses important area that analyse complex relation between media and society. This article explain how language are used to reflect and distort reality in media by consider and defy several theory. There’s also explanation about how media can form its audience’s perspective.
Keywords: reality, opinion leaders, hypothesis Whorf, the magic bullet theory.
Pendahuluan
Media dan masyarakat memiliki hubungan yang menarik untuk dibahas karena erat dan kompleksnya hubungan antara keduanya. Dalam menjelaskan hubungan timbal- balik dan kompleks antara media massa dengan masyarakat ini akan menyangkut tiga area yang telah dianggap sebagai fokus utama banyak penelitian yang menghasilkan beragam teori tentang media. Tiga area itu adalah pertama, berkenaan dengan jawaban untuk berbagai pertanyaan mengenai apakah media menawarkan pandangan-pandangan alternatif ataukah hanya menjadi corong penguasa. Di sini media memperkuat cara pandang para penguasa terhadap ‘realitas’. Kedua, membahas hubungan antara teknologi dan kompetisi media dengan rutinitas yang telah menginstitusi masyarakat. Ketiga, pengaruh media dalam membentuk cara pandang dan pengalaman audiens.1
Untuk meyakini bahwa media sekadar merefleksikan apa yang ada dalam masyarakat dan tidak mendorong beragam perubahan sosial ini akan merendahkan kekuataan yang dimiliki media. Sebaliknya, untuk berpikir bahwa media adalah satu-satunya pihak yang berkuasa dan bertanggung jawab atas terjadinya beragam perubahan sosial berarti kita menafikan beragam faktor lain yang sama pentingnya. Pertanyaan yang seharusnya direnungkan dalam kaitan ini adalah sejauh mana media merefleksikan atau bahkan mis-reflect—mencerminkan dengan tidak tepat dan disengaja—masyarakat kaitannya dengan berbagai perubahan sosial; apa yang didorong media untuk terjadinya perubahan sosial; serta bagaimana media melakukannya?
Download artikel lengkap: Klik disini
Add comment April 2, 2008
Penyelesaian Konflik Berbasis Budaya Lokal
Oleh: Agus Sriyanto
Abstract:
Conflict is something that always embedded and can’t be avoided from life. As long as we have interest and purpose, conflict will always exist. Conflict often being as stigmata that have depraved and negative character. But, if we can manage it wisely, we can bring conflict to become positive element of social progress. One important thing on conflict resolution is using resolution models that appropriated with local condition and culture. Ideally, the resolution is a full initiative from grass roots that still maintain local custom. Therefore, we have to revitalize local culture in order to guarantee social cohesion.
Keywords: conflict, model, and local custom.
Pendahuluan
Konflik adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Selama masyarakat masih memiliki kepentingan, kehendak, serta cita-cita konflik senantiasa “mengikuti mereka”. Oleh karena dalam upaya untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan pastilah ada hambatan-hambatan yang menghalangi, dan halangan tersebut harus disingkirkan. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi benturan-benturan kepentingan antara individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Jika hal ini terjadi, maka konflik merupakan sesuatu yang niscaya terjadi dalam masyarakat.
Konflik antarbudaya ataupun multidimensional yang sering muncul dan mencuat dalam berbagai kejadian yang memprihatinkan dewasa ini bukanlah konflik yang muncul begitu saja. Akan tetapi, merupakan akumulasi dari ketimpangan–ketimpangan dalam menempatkan hak dan kewajiban yang cenderung tidak terpenuhi dengan baik. Konflik merupakan gesekan yang terjadi antara dua kubu atau lebih yang disebabkan adanya perbedaan nilai, status, kekuasaan, kelangkaan sumber daya, serta distribusi yang tidak merata, yang dapat menimbulkan deprifasi relative1 di masyarakat. Konflik dan kehidupan manusia tidak mungkin untuk dapat dipisahkan dan keduanya berada bersama-sama karena perbedaan nilai, status, kekuasaan, dan keterbatasan sumber daya itu memang pasti ada dalam masyarakat. Konflik akan selalu kita dijumpai dalam kehidupan manusia atau kehidupan masyarakat sebab untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia melakukan berbagai usaha yang dalam pelaksanaannya selalu dihadapkan pada sejumlah hak dan kewajiban. Jika hak dan kewajiban tidak dapat terpenuhi dengan baik, maka besar kemungkinan konflik terjadi.
Download artikel lengkap: Klik disini
4 comments April 2, 2008
Hukum Islam dan Perubahan Sosial
Oleh: Ridwan
Abstract:
In order to place law functionally to face every social change, we meed methodological breakthrough and ability to discern recent phenomena. There’s many supporting science to help application of law formulation, e.g. exegesis (tafsir), history (tarikh), and Arabic grammar. With this convergence between ushul fiqh and other sciences would lessen Islamic law formalism. On this context, Islamic law not only from value perspective alone, but also we find organic and structural relation with social life. Here the importance of Islamic law’s thought transformation phenomena, not only as religious phenomena. Islamic law thought transformation in Indonesia is a creative struggle between Islam and Indonesian society, between Islamic value and social structural reality.
Keywords: Islamic law, social change, and transformation.
Pendahuluan
Dalam lapangan sosiologi dan antropologi, perubahan sosial adalah wacana inti di mana penelitian dan perbedaan pendapat para ahli terjadi. Sejauh manusia sebagai pendukung kehidupan sosial dan budaya masih hidup, selama itu pula perubahan akan terjadi. Kontak dengan budaya lain yang melahirkan difusi, utamanya penemuan-penemuan baru, perluasan yang cepat pada mekanisme pendidikan formal, intensitas konflik terhadap nilai-nilai yang ada akibat sistem sosial yang terbuka dan terbukanya antisipasi masa depan merupakan daya dorong utama terjadinya perubahan.
Perkembangan dunia yang semakin maju disertai dengan era globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam beberapa bidang kehidupan masyarakat, seperti medis, hukum, sosial serta ekonomi telah membawa pengaruh yang besar, termasuk persoalan-persoalan hukum.1 Masyarakat Islam sebagai suatu bagian yang tidak terpisahkan dari dunia, tidak dapat melepaskan diri dari persoalan-persoalan yang menyangkut kedudukan hukum suatu persoalan.
Download artikel lengkap: Klik disini
Add comment April 2, 2008
Perubahan Sosial dan Pertanyaan tentang Kearifan Lokal
Oleh: Aprinus Salam
Abstract:
The question about where the direction of social changes in Indonesia, not yet can’t answer with detail until this day. Bargaining proses still happen and everything could take place. On the other part, recently Indonesian people still worried, angry, distressed, and concerned. Democracy still struggled continuously, and we don’t know what democracy would remain. There’s so many problem that need to solve, law enforcement still confused, and society live in uncertainty. We need social change that places much role on local genius. This general picture became based story for almost every Indonesian novel and short story.
Keywords: social change, local genius, Indonesian novel and short story.
Pengantar
Tulisan ini mengajak dan merefleksikan kembali konteks dan proses perubahan sosial, peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan berkaitan dengan konflik dan kekerasan dalam segala arasnya, bagaimana proses dan peristiwa itu terjadi, kemana arah dari proses perubahan tersebut, bagaimana “pengetahuan” dan “cara” masyarakat menghadapi berbagai masalah, dan seberapa jauh peran kearifan lokal ikut berperan dan bermain dalam kehidupan bermasyarakat.
Tentu masalah tersebut terlalu luas. Itulah sebabnya, akan difokuskan pada beberapa kasus saja, yakni dengan membicarakan masalah berdasarkan satu kerangka yang diceritakan oleh sebuah film. Film tersebut sebuah film yang tidak membuat heboh, yakni film berjudul Chocolat (2000). Film Chocolat dibintangi oleh Juliette Binoche, Johnny Depp, Lena Olin, Judy Dench, Alfred Molina, dan Carrie-Anne Moss, dan disutradarai oleh Lasse Halstrom. Dengan mengambil setting Prancis tahun 1959, film ini meraih Oscar 2001 kategori best picture. Oleh karena film ini pula, akting Binoche mendapat penghargaan aktris terbaik 2001 versi Academy Award.
Download artikel lengkap: Klik disini
Add comment April 2, 2008
Genealogi Kecantikan
Oleh: Elya Munfarida
Abstracts:
From social construct, beauty always embedded with feminine aspect. Therefore, its embedded on woman’s self. Beauty has unusual attractiveness that can destroy man’s world. It is so priceless, until woman would do anything to be beautiful. Genealogical perspective sees beauty as a discourse that has power relation inside. In beauty discourse, social construct has made women as subjugated object. Woman-meaning determinated by social meaning. Capitalism power also plays a role behind beauty discourses. With the power of his media, capitalism creates unlimited psychological desire that would stimulate beauty commodity demand. This is brought great advantage to capitalist because beauty commodity or product will continue to be produced.
Keywords: genealogy, discourses, beauty, objectification, and capitalism.
Pendahuluan
Konon kecantikan adalah anugerah terindah bagi wanita. Kecantikan memiliki kemampuan magnetik luar biasa yang mampu meruntuhkan dunia laki-laki. Dalam berbagai sejarah kemanusiaan dan mitologi kuno dilukiskan betapa dahsyatnya pengaruh kecantikan seorang perempuan terhadap jiwa laki-laki sehingga ia mau berkorban dan melakukan apa saja demi sang perempuan. Keagungan dan kekuasaan laki-laki dapat jatuh dan bertekuk lutut di bawah kakinya. Beberapa contoh ilustrasi misalnya, kisah Adam dan Hawa, Julius Cesar dan Cleopatra, Rama dan Shinta, dsb. Perebutan wanita cantik antara Qabil dan Habil, perselisihan antara Epimetheus dan Prometheus demi memperebutkan Pandora yang cantik, juga turut mewarnai sejarah tragedi kemanusiaan atas nama kecantikan perempuan.
Download artikel lengkap: Klik disini
Add comment April 2, 2008
Keperempuanan, Emansipasi, dan Penghambaan
Oleh: Mohamad Ikhwan Rosyidi
Abstract:
This article analyze that a mites can become “model of” and “model for” reality from Sundanese people’s perspective, Nyi Rara Kidul (South beach Queen) can become model from life’s reality they face, also Roro Mendut and Dewi Candra Kirana for Javanese people, because these story contains contradictions and opposition that twofold each other. On the other side, these story became model for reality they face, both for Sundanese and Javanese, on emancipation or servitude frame. Through this activity, Javanese and Sundanese ca found their cultural identity, preserve and strengthen it. Beside that, it could reveal meaning that hidden behind every event.
Keywords: mites, Javanese, Sundanese, momisme, and emancipation.
Pendahuluan
Sampai saat ini pembicaraan tentang perempuan masih hangat dibicarakan, baik dalam forum-forum resmi maupun non-resmi. Pembicaraan ini dimulai dari hal-hal yang bersifat remeh, misalnya peran perempuan dalam rumah tangga hingga hal-hal yang sifatnya universal, seperti emansipasi dan feminisme. Pembicaraan ini terjadi karena adanya ketidakpuasan atas ketidak-sinambungan pandangan masyarakat pada laki-laki di satu pihak, dan perempuan di pihak yang lain. Sumber ketidakpuasan ini bukan pada perbedaan jenis kelamin, tetapi karena perbedaan itu diikuti dengan perbedaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Dalam bidang pergaulan, pekerjaan, pendidikan, ekonomi, keagamaan, dan masih banyak lagi, laki-laki mempunyai hak dan kebebasan yang lebih luas dibandingkan wanita yang hanya menerima keterikatan dan keterbatasan.
Download artikel lengkap: Klik disini
Add comment April 2, 2008
Gejala Matrifokalitas di Masyarakat Jawa
Oleh: Nawawi
Abstract:
From the development of human family, from the beginning actually woman position dot different with man. Anyway, there’s change when man become superior and dominate woman. Woman became subordinate before man. Recent days there’s effort from woman to take position equal to man. In Java, without intentionally woman from low economic class or grass roots more or less successful to place them self independent from man. Especially on this class, even noticed a form of matrifocality organization where woman can become center of attention, love, and loyalty from their family member, more than used to receive by man or father.
Keywords: matrifocality, Java, family, and woman.
Pendahuluan
Smpai hari ini, baik dalam forum resmi maupun pembicaraan informal sehari-hari, baik secara terbuka maupun terselubung, sering kita dengar suara-suara bernada tidak puas atas adanya ketidakseimbangan pandangan masyarakat pada laki-laki di satu pihak dan wanita di pihak lain. Sumber ketiakpuasan itu bukan semata-semata pada perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perem-puan, tetapi karena perbedaan jenis kelamin itu diikuti dengan perbedaan hak dan kewajiban yang dirasa lebih menguntungkan pihak laki-laki daripada pihak wanita. Dalam bidang pergaulan, pekerjaan dan karier, pendidikan, ekonomi, keagamaan, dan lainnya, laki-laki dianggap mempunyai hak dan kebebasan yang lebih luas, sedangkan wanita harus menerima berbagai macam keterikatan dan keterbatasan.
Download artikel lengkap: Klik disini
Add comment April 2, 2008
Suwarga Nunut, Neraka Enda
Oleh: Kholid Mawardi
Abstract:
Suwung short story as narrative discourse offers interesting reconstruction about marital relationship at migrant workers. With its cultural-anthropology approach, Suwung able to show wife’s battle and struggle to husband hegemony, with its simple way and purpose, but deadly. Simple struggle by wife constitute boycott action, reversing conception, standard characterisation, and gossip, whereas its aim is to obtain husband attention and re-formulate intimation between both of them. This simple struggle made husband have to loose his patriarchal ideology and force him to re-formulate wife’s role beside him.
Keywords: husband and wife, migrant, patriarchal, and role.
Pendahuluan
Cerpen merupakan fiksi, karya sastra yang bersifat imajiner dan menawarkan permasalahan-permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Fiksi merupakan proses dialektika, kontemplasi dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Meskipun fiksi merupakan kerja imajinatif, tetapi tidak hanya semata-mata lamunan, melainkan penghayatan dan perenungan secara intens terhadap hakikat hidup yang dilakukan dengan penuh kesadaran.2
Secara sosiologis karya seni dapat menunjukkan hubungan antara karya dengan latar belakang psikologi pembuatnya. Hal ini biasanya terkait dengan momen-momen penting yang dikenang dalam hidup penciptanya. Karya seni juga dapat menunjukkan hubungan antara karya dengan konteks sosial penciptaannya, dalam arti sebuah karya merupakan dokumen sosial tentang realitas masyarakat, di mana sebuah karya dibuat.3
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa karya sastra merupakan rekonstruksi realitas sosial yang dihadapi atau bahkan dialami oleh seorang penulis sastra. Rekonstruksi imajiner atas realitas sosial tentunya berdasarkan kepada sesuatu yang khas dalam karya sastra, yaitu interpretasi dan ideologi seorang penulis.
Download artikel lengkap: Klik disini
1 comment April 2, 2008