Posts filed under 'Vol. 6 No. 1 Jan-Jul 2008'

Menghidupkan Tuhan Kembali: Ikhtiar Menggagas Tuhan Masa Depan

Oleh: Muhammad Mukti

Abstract:

God that we believe in now principally emerge from a concept that formulated by early thinkers, therefore certainly its contents affected by environment condition surrounding that concept’s formulator. Therefore, cultural, politic, or even economic factor more or less playing role to produce that concept. With the existence of “numinous” (Godliness talent) -indicate that man still need God, so offered new “God” became necessity. Even that God should we pick up again with new face, according to modern aspiration that idealized human rights, autonomy, love friendship, etc. With this model of God, we hope that God not being alienated or killed again.

Keywords: God, concept of God, numinous.

Pendahuluan
Pembicaraan mengenai Tuhan merupakan diskusi yang usianya seumur keberadaan manusia. Diduga kuat pada diri manusia memang memiliki bakat ber-Tuhan.1
Tuhan yang digambarkan sebagai wujud yang Mahakuasa, pencipta, dan sebagainya yang diyakini mampu memberikan keselamatan, kedamaian, dan dapat memberi murka.
Meskipun bakat ber-Tuhan melekat pada diri dan jiwa manusia, namun dalam perkembangannya, wujud dan gambaran Tuhan yang diyakini, umumnya mengikuti bentuk dan tren yang dilahirkan oleh institusi Agama yang lahir melalui logika para ulama sebagai hasil dari pemahaman mereka terhadap kitab suci. Selain itu, tidak sedikit Tuhan-tuhan yang lahir dan dibentuk oleh kebudayaan lokal. Oleh karenanya dalam satu agama sekalipun, Tuhan yang diyakini dan disembah oleh para pemujanya lahir dengan berbagai cerita, sesuai dengan pola pandang dan afiliasi teologi yang dianut.
Dalam kasus Islam, misalnya, Tuhan yang diyakini lahir dari logika-logika Asyarisme, Muktazila, Jabariyah maupun Syi’ah. Variasi dan citra Tuhan yang beragam tidak hanya terjadi di dunia Islam, pada Kristen pun hal yang demikian terjadi. Dalam dunia Kristen format Tuhan yang sah adalah yang keluar dari mulut gereja .

Download artikel lengkap: Klik disini

1 comment April 1, 2008

Filsafat Sejarah Menurut Murtadha Muthahhari

Oleh: Abdul Basit

Abstract:

This paper based on Muhammad Qutb statement that Islamic history need to reconstruct, by formulated with al-Qur’an as paradigm. To respond to that, Muthahhari’s thought can become object of study to write and research in history. Muthahhari studying history focused on philosophical aspect. Historical philosophy of Muthahhari is beginning with ontological discussion, namely history’s nature as not only physical, but also non-physical and supra-physical. These natures of history differentiate Muthahhari thought with Marxian perspective, with implication on different objective, movement, and historical figure. For Muthahhari, history has progressive character, to open or knowing future path and build true idealism. In this historical movement, man playing main role a historical person. Muthahhari with his expert as philosopher and prolific writer can elaborate analytically to Qur’anic verse become systematic and objective theory.

Keywords: Muthahhari, history, Paradigm, al-Qur’an, and Marxism.

Pendahuluan
Menurut Muhammad Qutb, sejarah Islam yang berkembang dewasa ini memiliki tiga corak, yaitu; pertama, sejarah Islam yang diwarnai oleh dan diambil dari sumber-sumber Arab kuno. Kedua, sejarah Islam yang diambil dan diwarnai oleh sumber-sumber Barat melalui formulasi para orientalis yang juga menimba bahan-bahannya dari sumber Arab kuno. Ketiga, memutarbalikkan maksud nash (teks) secara sengaja dengan tujuan membuat kesimpulan-kesimpulan yang tidak ada hubungannya dengan nash tersebut atau dengan cara menambah atau menghilangkan beberapa kalimat sehingga nash tersebut memberikan makna yang tidak ada lagi kaitannya dengan nash itu sendiri. Di samping itu, mereka juga mempergunakan riwayat-riwayat lemah yang tidak terdapat dalam referensi-referensi Islam yang belum disaring, lalu dijadikan sebagai pegangan pokok sementara riwayat lain yang kuat dikesampingkan.1

Melihat fenomena sejarah Islam tersebut, Muhammad Qutb mengungkapkan bahwa sejarah Islam perlu ditulis ulang. Alasannya agar sejarah dapat direkonstruksikan dengan apa adanya. Dalam penulisan tersebut, al-Qur’an dapat dijadikan sebagai titik berangkat dan paradigma. Menurut Mazheruddin Shiddiqi, al-Qur’an mendasarkan konsep sejarahnya pada manifestasi sifat individu dan sosial manusia dalam sejarah.2 Al-Qur’an tidak menelusuri evaluasi suatu masyarakat ataumemisahkan fase-fase yang berbeda-beda yang telah dilalui oleh masyarakat itu. Bahkan, Islam tidak memberikan kita suatu hukum tertentu tentang pertumbuhan dan kehancuran kebudayaan, tetapi hanya memperlihatkan dan menunjukkan fakta-fakta yang pasti tetap tentang sifat manusia dalam aspek kelompoknya dan memberikan tekanan tertentu pada faktor-faktor moral sosial yang mengakibatkan perusakan motivasi manusia dan penghancuran masyarakat yang telah rusak.

Al-Qur’an sebagai paradigma untuk perumusan teori, baik sejarah maupun ilmu pengetahuan yang lainnya juga diungkapkan oleh Kuntowijoyo. Menurutnya, paradigma al-Qur’an berarti suatu konstruksi pengetahuan yang memungkinkan untuk memahami realitas sebagaimana al-Qur’an memahaminya.3 Konstruksi pengetahuan itu dibangun oleh al-Qur’an pertama-tama dengan tujuan agar memiliki hikmah yang atas dasar itu dapat dibentuk perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai normatif al-Qur’an, baik pada level moral maupun sosial. Akan tetapi, konstruksi pengetahuan itu juga memungkinkan kita merumuskan desain besar mengenai sistem Islam termasuk dalam hal sistem ilmu pengetahuan. Jadi, di samping memberikan gambaran aksiologis, paradigma al-Qur’an juga dapat berfungsi untuk memberikan wawasan epistemologis.

Salah seorang tokoh yang mampu memformulasikan konsep al-Qur’an dalam paradigma yang jelas terutama berkaitan dengan filsafat sejarah adalah Murtadha Muthahhari. Dia adalah ulama intelektual abad ke-20 yang dijadikan sebagai salah seorang model sarjana Islam yang telah memenuhi tiga syarat yang banyak diimpikan, tetapi jarang bertemu dalam satu pribadi, yaitu akar yang kokoh pada studi Islam tradisional, penguasaan memadai atas ilmu-ilmu nonagama, dan sebagai penulis prolifik yang memiliki karya-karya nyata di bidang sosial. Selain itu, Muthahhari juga memiliki latar belakang yang kuat dalam filsafat dan irfan (gnosis). Dia telah berupaya menerapkan kedua hal tersebut pada tataran realitas sosial kontemporer.

Download artikel lengkap: Klik disini

Add comment April 1, 2008

Sinergi Hasil Perencanaan Pembangunan Pedesaan dan Sustainabilitas Partisipasi Masyarakat: Studi Kasus di Desa Lebaksiu Lor, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal

Oleh: Alizar Isna

Abstract:

An implementation of Act (UU) No. 25 year of 2004 about National Development Planning System and Kecamatan Development Program (PPK) has given experience, ability of arranging development planning, and develop public participation in village development. Development planning process of the two activities have bottom up characteristic and participative. They open the chance for synergy the planning. The research result shows that it has not seen yet the planning synergy of village discussion PPK result and village Musrenbang activity in Lebaksiu Lor village. Besides that, it has not seen yet the public participation sustainability in village development. The supporting factors about there have not seen yet public participation sustainability in village development are; (a) preference to emphasizes formal/administrative aspect program; (b) low of public solidarity because of RW egoism, competition of religion organization, and competitive characteristic program; (c) experience of previous program implementation, especially financial fund, has implanted wrong public mindset that all of thing must be begun by stimulant; (d) public figure oriented; (e) compartmentalize between project activity and non project activity so, when the implementation of a project has finished, everything that related with the project will finish; then when receiving another project, the activity will adjust to the interest of the project receiving.

Keywords: public participation, planning, synergy, sustainability.

Pendahuluan
Upaya memberikan pengalaman, kemampuan menyusun rencana pembangunan, serta membangun partisipasi masyarakat yang berkelanjutan dalam pembangunan desa telah dilakukan, baik melalui peraturan perundang-undangan maupun program-program yang didesain untuk itu. Melalui pelaksanaan Undang-Undang (UU) No. 25 Tahun 2000, misalnya, proses perencanaan pembangunan didesain bersifat bottom-up dan partisipatif.
Meskipun UU No. 25 Tahun 2000 telah diganti dengan UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, substansi dan esensi UU No. 25 Tahun 2004 masih sama dengan UU No. 25 Tahun 2000. Berdasarkan UU No. 25 Tahun 2004, proses perencanaan pembangunan tetap dimulai dari tingkat desa melalui kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan TingkatDesa/Kelurahan (Musrenbang Desa/Kelurahan) yang bersifat partisipatif dan melibatkan segenap elemen masyarakat desa/kelurahan. Selanjutnya, hasil Musrenbang Desa/Kelurahan akan menjadi bahan penyusunan Musrenbang Kecamatan, Musrenbangda Kabupaten/Kota, Musrenbangda Provinsi, Musrenbang Provinsi, dan Musrenbangpus.
Selain itu, melalui kegiatan perencanaan di atas, pelaksanaan program-program pemerintah, antara lain Program Pengembangan Kecamatan (PPK), juga memberikan pengalaman, kemampuan menyusun rencana pembangunan, serta membangun partisipasi masyarakat. Upaya tersebut sesuai dengan tujuan, azas, maupun tahapan pelaksanaan PPK.
Berkaitan dengan upaya untuk memberikan pengalaman, kemampuan menyusun rencana pembangunan, serta membangun partisipasi masyarakat melalui UU No. 25 Tahun 2000, UU No. 25 Tahun 2004 maupun pelaksanaan PPK, menarik untuk dikaji bagaimana sinergi perencanaan pembangunan desa hasil pelaksanaan Musrenbang Desa/Kelurahan dengan Musyawarah Desa (MD). Idealnya, karena hasil dari kedua kegiatan perencanaan tersebut digali dari masyarakat sehingga berpeluang merepresentasikan kepentingan masyarakat, kedua dokumen perencanaan tersebut tidaklah harus berdiri sendiri. Sebagai ilustrasi, karena keterbatasan dana PPK, misalnya, maka hasil perencanaan dan pelaksanaannya pada PPK bisa dilanjutkan dan masuk dalam forum Musrenbang Desa/Kelurahan sehingga ada keberlanjutan maupun keterkaitan program pembangunan. Sebaliknya, pelaksanaan pembangunan desa pada periode tertentu (2004 misalnya) yang belum dapat dirampungkan karena keterbatasan dana, bisa dilanjutkan melalui program PPK, yakni dengan cara diusulkan serta dimasukkan ke dalam perencanaan PPK pada periode selanjutnya dari pembangunan desa hasil Musrenbang Desa/Kelurahan (periode 2005). Melalui koordinasi dan sinergi kedua dokumen perencanaan tersebut akan mampu diwujudkan hasil pembangunan yang lebih terarah, utuh, dan berkelanjutan.

Download artikel lengkap: Klik disini

1 comment April 1, 2008

Merasakan Manisnya Iman

Oleh: Santosa `Irfaan

Abstract:

Hadis studies about the sweetness of faith with eidetic studies pattern and practical studies will lead us to understanding that hadis elaboration can be very extensive. That we often found till now is more emphasizing on Practical studies, because it is the final point. Whereas eidetic studies will became basis to urge reader or audience of speech or Islamic informal education (pengajian) in order that they easier to receive and strengthening faith, and hopefully can manifested in daily life, with paradise as its stimuli (confirmative studies).

Keywords: hadis studies, faith, eidetic studies, practical studies, confirmative studies.

Pengantar
Hadis dan sunnah secara struktural merupakan sumber ajaran Islam yang kedua sesudah al-Qur’an. Secara umum diketahui bahwa Hadis maupun sunnah berfungsi sebagai penjelas/perinci atas kandungan al-Qur’an yang global (bayân) atau pengecualian (takhshîsh) terhadap keumuman al-Qur’an atau pembatasan (taqyîd) terhadap kemutlakan al-Qur’an atau menguatkan kandungan al-Qur’an dan menjelaskan yang tidak secara eksplisit ditegaskan.1)

Upaya pendalaman terhadap Hadis harus dilakukan lebih berhati-hati karena dalam rangkaian periwayatan Hadis, ada yang mutawâtir, 2) sebagaimana penyampaian (transformasi) al-Qur’an yang menurut akal sehat dan kebiasaan mustahil para penyampai berita sepakat untuk bohong. Namun terkadang ada juga penyampaian berita Hadis secara ahad, 3) yang hanya disampaikan oleh orang per orang. Penyampaian Hadis oleh orang per orang inilah yang harus lebih dikritisi dan dicermati karena bukan mustahil ada peluang bohong atau tidak benar. Pemahaman terhadap Hadis, tidak cukup hanya pada rangkaian pembawa berita, tetapi juga terhadap kandungan isi teks atau matan.4) Untuk mengetahui kandungan Hadis, harus lebih dahulu mengerti susunan redaksi (matan) Hadis. Oleh karenanya studi matan Hadis menjadi semakin penting. Lebih-lebih di luar kajian akademik, masyarakat umum lebih memperhatikan matan (teks) Hadis, daripada periwayat, apalagi rangkaian pembawa berita (sanad). 5)

Kedua aspek, sanad dan matan, diperlukan dan wajib agar pendalaman studi Hadis tidak salah arah dan sasaran. Tulisan ini akan mencoba untuk menelaah suatu Hadis yang berhubungan dengan dasar agama Islam, yaitu iman.

Download artikel lengkap: Klik disini

Add comment April 1, 2008

Akomodatif terhadap Budaya Lokal: Studi tentang Dialektika Budaya Jawa dengan Islam

Oleh: Moh. Roqib

Abstract:

Accommodative attitude for Javanese Muslim community is a historical necessity, that accumulated from intercultural dialogue of Muslim trader that have live characteristic more dynamic than agrarian or farmer community. Life dynamic of these traders from diverse region and nation (Arab, India, and Persia) opens cultural diversity Islam-Java that strengthens with interaction in trade, marriage, and political power inheritance (Majapahit) in Java. This accommodative attitude also emphasized by kitab kuning (yellow-paper book) studies’ tradition in pesantren in Java. Kitab kuning writers from different place (especially Middle East and Andalusia/Spain) have contributed to cultural acculturation. This accommodative attitude also leads Muslim community as the biggest in Java and Indonesia. Without this attitude, friction and collision in social interaction in Java will be very intense.

Keywords: accommodative attitude, Javanese Muslim, kitab kuning.

Pendahuluan
Tulisan ini bermula dari perbincangan penulis dengan kawan dekat, Sahiron Syamsudin, Ph.D. Saat itu ia baru saja menginjakkan kaki di tanah air setelah beberapa tahun studi program doktor di Jerman. Perbincangan bermula dari pertanyaan mengapa Islam di Indonesia berkembang dengan damai dan masyarakat Muslim selalu hidup beriringan dengan masyarakat yang beragama lain. Penulis berpendapat bahwa hal itu disebabkan karena para pedagang Muslim yang berdakwah menggunakan pendekatan akomodatif dengan budaya lokal. Sikap akomodatif, oleh pesantren di Jawa disebut dengan pendekatan tasamuh, tawazun, dan tawasuth, telah memberikan “ruang dialog” bagi semua komunitas yang ada saat itu untuk mencerna kehadiran agama baru di Jawa atau Nusantara.
Sahiron menambahkan bahwa sikap akomodatif para mubaligh tersebut sebagai penentu keberhasilan Islam masuk di Indonesia. Tanpa sikap akomodatif mustahil Islam bisa berkembang dan menjadi mayoritas seperti saat ini. Watak dan budaya lokal Jawa dan Nusantara tidak memungkinkan dilaksanakan dakwah dengan pendekatan lain semisal purivikasi atau pemurnian yang cenderungliteralis dan tekstualis. Masyarakat Jawa yang sensitif cenderung menggunakan bahasa “tepa slira” yang mengukur diri dan orang lain dengan standar rasa yang tinggi.

Download artikel lengkap: Klik disini

Add comment April 1, 2008

Mistisisme Simbolik dalam Tradisi Islam Jawa

Oleh: Ridwan

Abstract:

From intensity of religious teaching’s implementation, Javanese people classified into two groups: santri’s group and abangan’s group. Santri always based their deed to religious teaching, whereas abangan still based their world view to Hindu-Buddha tradition or Javanese culture. Islam is a humanistic religious teaching, namely religion that seeing man as central direction with based on “humanism Theo-centric” concept. Islam axis is tauhidullah that directed to realize prosperity and human civilization. This humanism Theo-centric principle is that will be transformed as values that comprehend and practiced in culture context. From here emerge symbols that formed from dialectic process between religious values and cultural values. This new Javanese culture is full of Islamic content, even its physical form still genuine Javanese culture.

Keywords: religious teaching, humanism Theo-centric, Javanese culture.

Pendahuluan
Membincang konsep Islam vis a vis tradisi dalam disiplin antropologi terbagi menjadi dua bagian yang sering disebut dengan “tradisi besar” (grand tradition) dengan tradisi kecil (little tradition). Konsep ini dikenalkan oleh Jacques Duchesne Guillemin yang menyatakan bahwa akan selalu terjadi dialog antara tatanan nilai agama yang menjadi cita-cita religius dari agama dengan tata nilai budaya lokal. Pertautan dialektis yang kreatif antara nilai universal dari agama dengan budaya lokal telah menghadirkan corak ajaran Islam dalam kesatuan spiritual dengan corak budaya yang ragam (unity and diversity).
Melakukan pembacaan terhadap Islam di Indonesia dengan menggunakan kerangka pemahaman seperti di atas, tidak saja akan menemukan keterkaitan historis dengan realitas kesejarahan Islam, tetapi juga akan menemukan satu sisi penting dari awal proses transformasi intelektual Islam yang bertolak dari nilai-nilai universalisme Islam yang dikategorikan sebagai tradisi besar dengan tata nilai dalam setting kultural dan struktural tertentu yang sudah terpola sebelumnya.1
Sistem kebudayaan terdiri atas nilai-nilai budaya berupa gagasan yang sangat berharga bagi proses kehidupan. Oleh karena itu, nilai budaya dapat menentukan karakteristik suatu lingkungan kebudayaan, di mana nilai tersebut dianut. Nilai budaya langsung atau tidak langsung akan diwarnai oleh tindakan-tindakan masyarakatnya serta produk kebudayaan yang bersifat materiil.

Download artikel lengkap: Klik disini

Add comment April 1, 2008

Ilmu, Etika, dan Agama: Representasi Ilmu Ekonomi Islam

Oleh: Ahmad Dahlan

Abstracts:

Knowledge, ethic, and religion are three combinations that can’t be detached from life. Human created to embrace religion, and religion practiced with ethic values, whereas knowledge builds from a series of religious practices and ethic values. Islamic economy is a discipline that manifested as representation of knowledge, ethic, and religion that collaborated on practical-empirical aspect, not separated on knowledge development. Therefore, knowledge, ethic, and religion are a harmonization for human to live a life to reach worldly destination and hereafter.

Keywords: knowledge, ethic, religion, and Islamic economy.

Pendahuluan
Beberapa tema yang tampak mirip dengan tema “Ilmu, Etika, dan Agama”, yaitu “Etika dan Dialog antar-Agama” dan “Seni, Ilmu, dan Agama”. Setidaknya dari komposisi kata, ketiga tema tersebut memakai kata ilmu dan agama. Sementara itu, etika dan aktualisasinya akan selalu menjadi bagian dari proses perkembangan kehidupan manusia yang bisa muncul akibat pengaruh dari masalah keagamaan,1 atau aktualisasi etika juga diakibatkan dari bagian kausalitas yang dimunculkan oleh ilmu pengetahuan.
Tema “Etika dan Dialog antar-Agama” ditulis oleh Prof. Dr. M. Amin Abdullah. Ketika akan membahas tema ini beliau agak kesulitan dalam jenis pilihan pendekatan (approach) yang akan dipakai karena beliau mengutip Richard C. Martin,2 bahwa dalam studi agama dikenal dua jenis pendekatan seorang believer dan pendekatan seorang historian. Oleh karena itu, akan berbeda antara “mukmin” (percaya dengan sepenuh hati), dengan seorang “muarrikh” (ilmuwan yang kritis) dalam melihat realitas empirik kehidupan manusia.3

Download artikel lengkap: Klik disini

Add comment April 1, 2008

Semakna Sastra Semulia Akhlak Bangsa Impian Bohong di Siang Bolong

Oleh: Heru Marwata

Abstract:

Finding literary benefit to nation’s moral education perhaps a momentarily task, for sake of boasting themes. Whether benefited or not is depend on us, from where we observe, with what perspective, for what and with what basis we explore, and what purpose we understand it. So, is there literary work that didn’t have moral values? Or, is there any works that potential to enhance or deprave moral? Have we enough time to know them, and discussing with intense? Even hoping that literary meaning equal as lofty nation’s moral is like “False Dream at Daylight”, never be afraid to dream, or to expand your dream, or even become dreamer, because dreams is usually not far from reality.

Keywords: literary meaning, moral values, dream.

0 Pengantar
Sengaja tulisan ini dimulai dengan pengantar bernomor poin 0 (nol = kosong, juga bermula dengan nomor halaman 0) untuk mengukuhkan asumsi penulis bahwa mengharap semakna sastra untuk memuliakan akhlak bangsa adalah mimpi—saja bohong apalagi di—siang bolong = kosong. Meskipun demikian, dengan keyakinan bahwa sulit membayangkan sastra sebagai sesuatu yang melompong, perkenankan penulis mencoba meneropong dunia bohong dan bolong itu dengan kacamata seorang pemimpi, pengharap guna (maaf, tanpa pengulangan kata) dari dunia maya.

Seandainya
Seandainya banyak orang yang setuju (mungkin termasuk Anda) bahwa sastra memiliki dua aspek atau dua sisi, formal dan moral —sambil membayangkan nama Graham Hough, penulis buku An Essay on Criticism—, salahkah orang mengharapkan ada secercah harapan panduan moral dari karya sastra? Graham Hough memberikan catatan kecil tentang kriteria moral dalam melihat sastra. Menurutnya nilai moral sastra terletak pada relevansinya dengan kehidupan. Jika demikian, bagaimana kita merumuskan nilai moral itu? Bukankah untuk karya imajinatif bermedium bahasa dengan unsur estetik dominan seperti sastra sangat mungkin terjadi perbedaan, misalnya antara maksud pengarang dengan penerimaan pembaca? Di antara sumber muarapenulis dan pembaca yang bisa berlainan itu, manakah yang akan dijadikan pedoman, kemung-kinan kebohongan pencipta atau kemungkinan kesalahan tafsir penikmatnya?

Download artikel lengkap: Klik disini

Add comment April 1, 2008

Membaca Kritik Sastra Sunda Ajip Rosidi

Oleh: Teddy A.N. Muhtadin

Abstract:

This research, by postcolonial perspective, is intended for to reveal the concept of Ajip Rosidi (AR)’s literary criticism and related to the “literary” terminology’s Dutch colonialism. From result of this research obtained conclusion that the concept of AR’s literary criticism was modern literary and was treated Sundanese literature by universal criterion, measure, and valuable. This concept do not different from literary concept was used by Sundanese literary expert included Dutch scholars. In the postcolonial context AR has performed mimicry.

Keywords: Ajip Rosidi, postcolonial, Sundanese literary.

Pendahuluan
Sastra Sunda memiliki sejarahnya sendiri, walaupun mungkin bukan sejarah yang panjang seperti sastra Arab atau India. Ia lahir entah kapan, entah pada zaman yang mana, namun jejak-jejak tertulisnya sudah tampak sejak abad ke-16.1 Dalam rentang lima abad tersebut kehidupan sastra Sunda memperlihatkan wajah yang beragam, baik genre maupun ideologi yang ada di dalamnya. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan karena kebudayaan Sunda sendiri tumbuh di wilayah strategis yang mudah menjadi ajang pertarungan berbagai kekuatan.2 Sebelum Islam tersebar luas di Sunda, Budha dan Hindu pernah menjadi anutan mereka. Rosidi mengatakan bahwa kita masih menemukan pengaruh yang kuat dari kedua agama ini dalam mantra-mantra. Begitu pula tokoh-tokoh cerita Anbiya yang berasal dari kebudayaan Arab seperti Amir Hamzah, Rengganis, dan Imam Suwangsa sudah diterima sebagai orang Sunda sebagaimana tokoh-tokoh Pandawa. Tidak terkecuali tembang Cianjuran yang menjadi salah satu kesenian khas Sunda sampai sekarang tetap menggunakan jenis puisi dangding warisan Jawa-Mataram.

Download artikel lengkap: Klik disini

Add comment April 1, 2008

Potret Generasi Pascanasional dalam Novel Burung-Burung Rantau Karya Y.B. Mangunwijaya

Oleh: Anwar Efendi

 

Abstract:

society and contemporary problems on specific era affected themes chosen by writers in their works. What articulated by writers in their works is an offer to become alternative to interpret and understand human and his life. YB. Mangunwijaya as prominent writer that have unique character and creativity, try to articulating his knowledge and understanding, especially about posterior-nationalism idea. By means characters in his novel Burung-burung Rantau (Wandering Birds), Mangunwijaya want to give enlightenment to us about understanding our aim in our nation and state, in Indonesian frame, philosophically, ideologically, and cultural.

Keywords: generation, nationalism, and post-nationalism.

Pendahuluan
Pada masa menjelang abad ke-21 orang mulai berbicara bahwa mereka sedang berada dalam proses memasuki tata kehidupan yang baru. Tata kehidupan tersebut dimaknai dengan berbagai macam istilah. Masing-masing istilah mempunyai makna sekaligus menghadirkan interpretasi yang berbeda-beda. Istilah seperti globalisasi, postmodernisme, postkolonialisme, konsumerisme, dan juga abad informasi digunakan untuk menyebut tata kehidupan baru yang diidealkan oleh masyarakat dunia.
Tata kehidupan baru tersebut ditandai oleh adanya perubahan yang cepat dalam berbagai bidang kehidupan seperti bidang teknologi, ekonomi, politik, dan budaya. Perkembangan yang pesat dalam bidang teknologi, khususnya teknologi informasi memungkinkan produksi dan distribusi informasi mencapai tingkat kemudahan dan kecepatan yang tinggi sehingga dapat menembus batas ruang dan waktu. Perkembangan bidang ekonomi memunculkan suatu era yang dinamai era pasar global, pasar tanpa batas. Selanjutnya, pada bidang politik ditandai semakin melemahnya batas-batas ruang yang semula menjadi dasar berdirinya negara bangsa. Sementara itu, bidang budaya memungkinkan munculnya globalisasi budaya yang dijiwai oleh entitas pluralisme.

Download artikel lengkap: Klik disini

4 comments March 31, 2008

Previous Posts


Pages

Categories

Recent Posts

Top Posts

Top Clicks

Blogroll

Link

 

November 2009
M T W T F S S
« Apr    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Recent Comments

yunus on Sejarah Perkembangan Pesa…
ferdi10790 on Javanese Santri Islam
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
pangeran on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…
Nashih on Slametan dalam Kosmologi Jawa:…

RSS Journal of Islamic Law and Culture

Archives

Meta

Blog Stats

Feeds

Spam Blocked